Sabtu, 14 Mei 2016

makalah mikrobiologi



MAKALAH MIKROBIOLOGI
“BAKTERI MYCOBACTERIUM LEPRAE PENYEBAB PENYAKIT LEPRAE”

Instruktur : Nur Indah Wiji Lestari, S.KM



Disusun Oleh :
Nama             : ISTIQOMAH AZZAHROH
NIM               : 14.15.4086
Kelas              : D/KM/II


KONSENTRASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT
PROGAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016



KATA PENGANTAR


Alhamdulilahirabbilalamin, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah Mikrobiologi yang berjudul “BAKTERI MYCOBACTERIUM LEPRAE PENYEBAB PENYAKIT LEPRAE”.
            Sesuai dengan judul yang telah disebutkan di atas, dalam makalah ini kami memaparkan mengenai pengertian leprae, penyebab leprae, ciri-ciri leprae, jenis-jenis leprae, etimologi leprae, penyembuhan penyakit leprae, serta materi-materi lain yang berkaitan dengan topik tersebut.
            Tujuan dari penyusunan makalah ini, selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Mikrobiologi,  juga saya susun sebagai bahan pembelajaran diskusi saya.
            Namun di samping itu, kami menyadari betul bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Dan untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran  yang sekiranya membangun dari  para pembaca sekalian agar kekurangan dalam  makalah ini dapat diperbaiki dan menjadi lebih sempurna untuk proses penambahan wawasan kita semua.



Yogyakarta, 14 Mei 2016
                                                                                   




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................ 1
DAFTAR ISI.......................................................................................... 2
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... 3
      A. Latar Belakang ............................................................................ 3
      B. Rumusan Masalah......................................................................... 5
      C. Tujuan........................................................................................... 5
      D. Kasus............................................................................................ 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 7
     A. Kesehatan Secara Umum.............................................................. 7
     B. Konsep Sehat Sakit....................................................................... 8
     C. Teori Penyakit Lepra .................................................................... 9
BAB III. PEMBAHASAN ................................................................... 10
      A. Penertian penyakit lepra............................................................... 10
      B. Sejarah penyakit lepra................................................................... 10
      C. Ciri-ciri penyakit lepra.................................................................. 12
      D. Etimologi Penyakit lepra.............................................................. 13
      E. Epidemiologi penyakit lepra......................................................... 13
      F. Penyebab penyakit lepra............................................................... 18
      G. Patofisiologi penyakit lepra.......................................................... 18
      H. Bentu-bentuk penyakit lepra........................................................ 20
       I. Pengobatan penyakit lepra............................................................ 21
BAB VI. PENUTUP.............................................................................. 25
      A. Kesimpulan................................................................................... 25
      B. Saran............................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 26
LAMPIRAN........................................................................................... 27
















BAB I
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang
Penyakit lepra merupakan infeksi progresif lambat yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, penyakit ini mengenai kulit dan saraf perifer dengan konsekuensi deformitas yang menimbulkan deformitas. Penyakit lepra (sejenis penyakit kulit yang membuat tubuh penderitanya membusuk, mengering dan akhirnya tanggal satu per satu). Penderita lepra biasanya dipandang dengan perasaan jijik dan hina. Mereka yang terkena penyakit lepra dijauhi masyarakat karena takut akan tertular penyakit mengerikan iut. Tidak ada yang berani mendekati, ada yang berani mendekati, apalagi merawat para penderita lepra. Penyakit lepra merupakan penyakit negeri dengan mudah dapat mengetahui siapa di antara mereka yang menderita penyakit lepra.
Lepra adalah penyakit menjijikkan yang terjadi karena menyebarnya titik hitam diseluruh tubuh dan merusak sel-sel anggota badan juga kerangka dan bentuknya. Pada akhirnya ia pun mampu merusak sel penyambung antara satu anggota dengan lainnya hingga seolah satu dengan lainnya saling memakan dan berjatuhan.
Lepra adalah suatu penyakiit kulit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Serangan kuman lepra yang berbentuk batang ini biasanya menyerang kulit, saraf, mata, selaput lendir hidung, otot, tulang dan buah zakar. Lepra yang disebut juga dengan penyakit Hansen yang merupakan penyakit kulit yang diakibatkan oleh infeksi menahun yang ditandai dengan adanya kerusakan saraf perifer yang menyerang hampir seluruh bagian kulit.
Penyakit lepra ini termasuk penyakit menular yang harus dihindari. Jika ada seseorang yang menderita penyakit lepra berat dan tidak tertangani, sewaktu-waktu bakteri lepra akan menyebar ke udara dan sekitar 50% kemungkinan tertular dengan penyakit lepra ini. Penyakit lepra juga mudah ditularkan melalui hubungan yang sangat dekat dengan penderita lepra itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan penyakit lepra?
2.      Bagaimana sejarah penyakit lepra?
3.      Apa ciri-ciri penyakit lepra?
4.      Bagaimana Etimologi penyakit lepra?
5.      Bagaimana Epidemiologi penyakit lepra?
6.      Apa penyebab penyakit lepra?
7.      Bagaimana Patofisiologi penyakit lepra?
8.      Apa saja Bentuk-bentuk Lepra?
9.      Bagaimana pengobatan penyakit lepra?

C.     Tujuan
1.      Mengetahui yang dimaksud dengan penyakit lepra
2.      Mengetahui sejarah penyakit lepra
3.      Mengetahui ciri-ciri penyakit lepra
4.      Mengetahui Etimologi penyakit lepra
5.      Mengetahui Epidemiologi penyakit lepra
6.      Mengetahui penyebab penyakit lepra
7.      Mengetahui Patofisiologi penyakit lepra
8.      Mengetahui Bentuk-bentuk Lepra
9.      Mengetahui pengobatan penyakit lepra
D.    Kasus
Kasus penyakit lepra di Indonesia masih tinggi, menduduki peringkat tiga di dunia. Setiap tahun tercatat 17 ribu hingga 20 ribu kasus lepra baru. "Itu yang terdeteksi, belum lagi yang tidak lapor dan tidak diobati," kata A.B. Susanto, Duta Besar The Leprosy Mission International untuk Indonesia dalam jumpa pers, Kamis (26/6).
Jumlah penderita di Indonesia masih lebih tinggi di bandingkan Cina yang memiliki penduduk lebih banyak. Kasus lepra barunya hanya 16.500. Dibandingkan negara miskin seperti Nigeria dan Etopia juga masih lebih tinggi, kasus barunya hanya sekitar 4.000-5.000 per tahun.
Belum dapat dipastikan berapa jumlah penderita sesungguhnya, namun diperkirakan mencapai 400 ribu - 500 ribu, dan terus bertambah setiap tahun. Penderita penyakit lepra sebenarnya dapat sembuh total dengan mengkonsumsi obat multydrugtherapy (MDT) selama 6-12 bulan.
    












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. Kesehatan Secara Umum
Pengertian Kesehatan menurut wikipedia adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan Pengertian Kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948  menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”
Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah “sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik.

Pengertian Kesehatan Menurut Undang-Undang

Dalam Undang-Undang ini yang pengertian kesehatan adalah:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudahadaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
  1. Konsep Sehat Sakit
1.      Sehat menurut WHO.
      Sehat:  a state of complete physical, mental, and social well being and not merely the absence of illness or indemnity. (sesuatu keadaan yang sejahtera menyeluruh baik fisik, mental, dan social dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan).
2. Sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan.


  1. Teori Penyakit Lepra
Penyakit kusta adalah suatu penyakit  kronis menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang pada masyarakat dinegara-negara berkembang dan menimbulkan dampak psikologis, sosial dan ekonomi. M. leprae yang merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler, menyerang sel saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.
Menurut Departemen Kesehatan Ditjen P2MPLP (1999) dan WHO (1995) penyakit ini dapat diklasifikasikan  menjadi dua tipe yaitu Pause Basilier (PB) dan Multi Basier (MB). Secara awam kusta dikenal ada dua macam yakni kusta kering dan kusta basah. Jika kusta terlambat diobati maka akan timbul kerusakan saraf dengan akibat berupa mati rasa (terhadap stimulus panas, dingin, nyeri), kelumpuhan otot, buta, dan akibat lain yang disebabkan oleh proses immunologis yang disebut reaksi kusta. Setelah M. leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh terhadap masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem immunitas seluler (cellular mediated immune) pasien. Kalau sistem immunitas seluler tinggi, penyakit berkembang kearah tuberkuloid dan bila rendah, berkembang kearah lepromatosa.
Teori yang paling banyak digunakan adalah penularan melalui kontak/sentuhan yang berlangsung lama, namun berbagai penelitian mutakhir mengarah pada droplet infection yaitu penularan melalui selaput lendir pada saluran napas. M. leprae tidak dapat bergerak sendiri dan tidak menghasilkan racun yang dapat merusak kulit, sedangkan ukuran fisiknya yang lebih besar dari pada pori-pori kulit. Oleh karena itu, M. leprae yang karena sesuatu hal menempel pada kulit kita, tidak dapat menembus kulit jika tidak ada luka pada kulit.
BAB III
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Lepra
Penyakit lepra atau kusta adalah penyakit yang terjadi secara menahun yang muncul dengan secara lambat, biasanya selama bertahun-tahun terjadi. Penyakit lepra atau kusta ini bisa ditularkan dengan mudah, biasanya mereka yang tinggal satu rumah dengan penderita lepra atau kusta ini akan dengan mudah terserang juga. Gejala dari penyakit lepra atau kusta salah satunya ditandai dengan hilangnya daya rasa atau kebal, biasanya gejala awalnya ditandai di daerah tangan dan juga kaki. Kemudian kadang-kadang mereka yang menderita akan merasakan rasa terbakar tanpa diketahui, karena tidak bisa merasakan panas atau merasakan sakit.
Lepra adalah penyakit kronik yang dihasilkan oleh infeksi dengan Mycobacterium leprae dan terjadi repson hospes. Organ yang paling mencolok terkena adalah kulit dan sistem syaraf perifer, tetapi keterlibatan saluran pernapasan atas, testis dan mata juga relatif sering. Manusia telah lama diduga merupakan satu-satunya hospes M. Leprae, tetapi infeksi yang didapat secara alamiah telah didokumentasi pada armadillo di Amerika Serikat selatan timur dan infeksi percobaan telah dilakukan pada primata, tikus telanjang dan armadillo.
Lesi kulit kronik, madarosis, neuropati sensori yang menyebabkan kehilangan jari-jari atau tungkai dan paresis akibat disfungsi saraf motoris merupakan sekule lepra. Sifat kelemahan yang sangat dapat dilihat ini menimbulkan kecacatan historis “lepra”. Sekule psikologis dan sosisologis dari stigma ini dapat melemahkan seperti penyakitnya sendiri dan dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencari perhatian medik. Untuk mengatasi prasangka ini, istilah penderita lepra telah mengganti kata lepra dan penyakit Hansen telah menjadi nama yang diterima.

B.     Sejarah
Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuna, Mesir kuna, dan India.[6] Pada 1995, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta.[7] Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis, beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti India dan Vietnam.
Pengobatan yang efektif terhadap penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan diperkenalkannya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga, bakteri penyebab lepra secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar. Hal ini terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat pada awal 1980-an dan penyakit ini pun mampu ditangani kembali.
v  M. Leprae yang terinhalasi difagositosis oleh monosit dan makrofag pulmoner menyebabkan penyebaran lewat darah, tetapi kuman tersebut terutama hanya tumbuh dalam jaringan perifer yang lebih ringan.
v  Penyakit lepra memiliki dua pola penyakit (bergantung pada respons imun hospes):
a.       Penyakit lepra tuberkuloid : lesi kulit yang kering, bersisik dan tak kentara yang disertai gangguan sensibilitas dan lesi saraf perifer yang asimetrik.
b.      Penyakit lepra lepromatosa (anergik) : penebalan kulit dan pembentukan nodul yang menimbulkan cacat tubuh dengan disertai keruskaan pada sistem sara akibat invasi mikobakterium ke dalam sel-sel makrofag perineural dan sel-sel Schwan.
c.       Penyakit lepra tuberkuloid disertai dengan respons T-helper tipe 1 (IFN-y) dan penyakit lepra lepramatosa disertai dengan respons T-helper tipe 2 yang tidak efektif.
Selain itu penyakit lepra yang melepaskan bakteri lepra juga mudah ditularkan melalui serangga seperti nyamuk, kutu busuk, atau melalui benda yang biasa digunakan oleh penderita lepra. Mereka yang tidak tertular penyakit lepra berarti memiliki pertahanan sistem kekebalan tubuh yang baik, karena penyakit lepra terbagi menjadi yakni penyakit lepra ringan (lepra tuberkuloid) dan penyakit lepra berat (lepra lepromatosa).
Gejala dari penyakit lepra atau kusta yang lainnya adalah bercak pucat atau bercak yang besar seperti bercak jamur yang biasanya pada bagian tengahnya ini mengalami kehilangan untuk merasa, bengkaknya saraf yang pada akhirnya membentuk seperti benjolan atau juga tali yang tebal yang ada di bawah kulit, serta luka yang melebar dan terjadi secara menahun, namun hal ini tidak menimbulkan gatal atau juga sakit.
Gejala yang terjadi dari penyakit lepra atau kusta yang menyerang wajah adalah kulit wajah yang terasa tebal dan juga berbenjol-benjol, atau daun telinganya menjadi tebal, pendek dan berbentuk persegi. Alis mata yang rontok dimulai dari luar dan kemudian semuanya.
Gejala selanjutnya ditandai dengan lumpuhnya kaki atau tangan yang menyerupai dengan clawhand atau cakar. Jari-jari tangan dan kaki ni biasanya akan menjadi lebih pendek dan akan terlihat seperti puntung. Cara mengobati penyakit lepra atau kusta ini bisa dilakukan namun membutuhkan waktu yang bertahun-tahun. Salah satu obat yang bisa mengatasi dan mengobati penyakit kusta atau lepra ini adalah sulfon. Jika yang dirasa reaksi lepranya berbentuk panas, ruam, sakit dan juga dirasa mengalami pembengkakan pada tangan atau kaki, atau juga kerusakan pada mata, maka tetaplah untuk minum obat tesebut dan tetap lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengontrol keadaan.
C.    Ciri-ciri lepra.
Lesi kulit pada paha.
Manifestasi klinis dari kusta sangat beragam, namun terutama mengenai kulit, saraf, dan membran mukosa.[8] Pasien dengan penyakit ini dapat dikelompokkan lagi menjadi 'kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit Hansen multibasiler), atau kusta multibasiler (borderline leprosy).
Kusta multibasiler, dengan tingkat keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid.
Kusta tuberkuloid ditandai dengan satu atau lebih hipopigmentasimakula kulit dan bagian yang tidak berasa (anestetik).
Kusta lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.
Tidak sejalan dengan mitos atau kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak menyebabkan pembusukan bagian tubuh. Menurut penelitian yang lama oleh Paul Brand, disebutkan bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang pada anggota gerak sering menyebabkan luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat menyebabkan masalah pada penderita AIDS.



D.    Etimologi penyakit lepra
Mycobacterium leprae adalah basil tahan asam dari famili mikobakteriaseae. Multipliksi M.leprae yang sangat lambat diamati pada model binatang yang sebagian dapat menjelaskan masa inkubasi yang lama yang ditemukan pada penyakit manusia: masa 3-5 tahun diduga khas.
Kejadian lepra yang jarnag pada bayi semuda umur 3 bulan memberi kesan bahwa penularan dalam rahim dapat terjadi atau bahwa masa inkubasi yang amat pendek dimungkinkan pada keadaan tertentu. Model penularan yang mungkin termasuk kontak dengan epidermis lepas yang terinfeksi, minum ASI yang terinfeksi dan gigitan nyamuk atau vektor lain. Namun, sekarang penularan melalui sekresi hidung yang terinfeksi tampak merupakan dasar pada kebanyakan infeksi. Keterlibatan nasofaring yang luas ditampakkan sebagai rhinitis kronik lazim pada penyakit lepratomatosa.

E.     Epidemiologi penyakit lepra
Organisasi kesehatan sedunia (WHO) memperkirakan bahwa diseluruh dunia ada 11 juta kasus lepra pada tahun 1975. Gambaran ini harus dianggap perkiraan yang kurang karena penemuan dan laporan kasus tidak cukup. Mulainya penyakit yang tersembunyi dan laporan kasus tidak cukup. Mulainya penyakit yang tersembunyi dan stigma sosial menyebabkan penundaan konsultasi medik dan tidak adanya uji diagnostik sederhana, tidak mahal, membuat konfirmasi diagnosis kulit.
Kebanyakan pasien lepra dunia ada di Afrika, India, Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Selatan. Angka prevalensi sangat bervariasi antara dan di dalam negara; frekuensi tertinggi untuk seluruh negeri adalah 25 kasus atau lebih per 1.000 populasi, tetapi frekuensi setinggi 200 kasus per 1.000 populasi terdapat dalam kantong-kantong hiperendemik kecil.
Penularan dari orang ke orang merupakan sebagian besar kasus yang menumpangi; sebagian besar dari mereka terjadi pada anggota keluarga atau pada kontak dekat penderita yang diketahui. Sekitar 200 kasus dilaporkan setiap tahun di Amerika Sderikat, darinya 90% adalah pada imigran. Sisanya 10 % berkembang pada tempat yang terlokalisasi sepanjang pantai Gulf (Guls coast) di Hawai dan di teritorial Mikronesia.
Lepra terjadi pada semua umur, tetapi infeksi pada bayi sangat jarang; insiden frekuensi puncak selama masa anak dan masa dewasa awal di deerah endemik. Infeksi virus imundefisinesi manusia dapat mengubah risiko lepra didaerah prevalensi yang tinggi untuk kedua patogen.
Lepra atau lebih dikenal dengan kusta adalah salah satu penyakit yang tingkat daya penularannya besar, dengan masa inkubasi rata-rata 5-6 tahun. Orang yang menemukan penyakit lepra ini menurut sejarah adalah seorang dokter dari norwegia Hansen. Sehingga penyakit ini dinamai dengan penyakit Hansen. Basil penyebab lepra sangat mirip dengan basil TBC, yakni sangat ulet dan terdapat lapisan lilin (wax) sehingga Mycobacterium leprae ini sangat sulit ditembus obat, dan tahan asam lambung serta pertumbuhan yang sangat lambat.
Sekarang kita bahas bagaimana cara penularannya, pria diketahui lebih berpotensi terinfeksi terhadap bakteri ini. Lepra bersifat menular ketika berbentuk Lepra Lepromateus, infeksi-tetes di saluran pernafasan (batuk, ingus, dan bersin) terutama terhadap kontak yang sudah lama. Selain melalui pernafasan, penularan secara genetik juga di perkirakan menimbulkan hasil uji positif adanya bakteri tersebut. Akan tetapi penelitian menunjukan bahwa hanya 5-10% dari semua penduduk di suatu daerah yang terinfeksi M.leprae. Ini dikarenakan M.leprae lebih berpotensi menginfeksi manusia dengan system imun rendah (immunodeficient) dan apabila sudah menginfeksi maka peka sekali untuk menularkannya. Sebab menurut penitian, beberapa di Negara barat, praktis sudah sama sekali tidak ada, dan itu dikarenakan ketahanan penduduknya tinggi terhadap basil lepra dan karena mayoritas penduduk berkehidupan baik dan mengkonsumsi makanan dengan gizi baik.
Kebanyakan penyakit ini terdapat di Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika. Jumlah pasien yang terbesar ada di India ( 950000) disusul Brasil (175000) dan Bangladesh ( 136000). Sementara di Negara kita sendiri pernah mencatat pada tahun 2004 terdapat kurang lebih 36 ribu kasus yang terdaftar maupun yang baru terdeteksi.
Distribusi penyakit kusta dunia pada 2003.
Di seluruh dunia, dua hingga tiga juta orang diperkirakan menderita kusta. India adalah negara dengan jumlah penderita terbesar, diikuti oleh Brasil dan Myanmar.
Pada 1999, insidensi penyakit kusta di dunia diperkirakan 640.000, pada 2000, 738.284 kasus ditemukan. Pada 1999, 108 kasus terjadi di Amerika Serikat. Pada 2000, WHO membuat daftar 91 negara yang endemik kusta. 70% kasus dunia terdapat di India, Myanmar, dan Nepal. Pada 2002, 763.917 kasus ditemukan di seluruh dunia, dan menurut WHO pada tahun itu, 90% kasus kusta dunia terdapat di Brasil, Madagaskar, Mozambik, Tanzania dan Nepal.
Kelompok berisiko
Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Situasi global
Tabel 1: Prevalensi pada awal 2006, dan tren penemuan kasus baru pada 2001-2005, tidak termasuk di Eropa
Daerah
Prevalensi terdaftar
(rate/10,000 pop.)
Kasus baru yang ditemukan pada tahun
Awal 2006
2001
2002
2003
2004
2005
40.830 (0.56)
39.612
48.248
47.006
46.918
42.814
32.904 (0.39)
42.830
39.939
52.435
52.662
41.780
133.422 (0.81)
668.658
520.632
405.147
298.603
201.635
Mediterania Timur
4.024 (0.09)
4.758
4.665
3.940
3.392
3.133
8.646 (0.05)
7.404
7.154
6.190
6.216
7.137
Total
219.826
763.262
620.638
514.718
407.791
296.499

Sebagaimana yang dlaporkan oleh WHO pada 115 negara dan teritori pada 2006 dan diterbitkan di Weekly Epidemiological Record, prevalensi terdaftar kusta pada awal tahun 2006 adalah 219.826 kasus. Penemuan kasus baru pada tahun sebelumnya adlaah 296.499 kasus. Alasan jumlah penemuan tahunan lebih tinggi dari prevalensi akhir tahun dijelaskan dengan adanya fakta bahwa proporsi kasus baru yang terapinya selesai pada tahun yang sama sehingga tidak lagi dimasukkan ke prevalensi terdaftar. Penemuan secara globa terhadap kasus baru menunjukkan penurunan.



F.     Penyebab leprae
Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta. Sebuah bakteri yang tahan asamM. leprae juga merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium.M. leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.

G.    Patofisiologi
Mekanisme penularan yang tepat belum diketahui. Beberapa hipotesis telah dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara. Selain manusia, hewan yang dapat tekena kusta adalah armadilo, simpanse, dan monyet pemakan kepiting.Terdapat bukti bahwa tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman M. leprae menderita kusta, dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap individu.Faktor ketidakcukupan gizi juga diduga merupakan faktor penyebab.
Penyakit ini sering dipercaya bahwa penularannya disebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dan orang yang sehat. Dalam penelitian terhadap insidensi, tingkat infeksi untuk kontak lepra lepromatosa beragam dari 6,2 per 1000 per tahun di Cebu, Philipina[ hingga 55,8 per 1000 per tahun di India Selatan.
Dua pintu keluar dari M. leprae dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung. Telah dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit. Bagaimanapun masih belum dapat dibuktikan bahwa organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit. Walaupun terdapat laporan bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epiteldeskuamosa di kulit, Weddel et al melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. Dalam penelitian terbaru, Job et al menemukan adanya sejumlah M. leprae yang besar di lapisan keratinsuperfisial kulit di penderita kusta lepromatosa. Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat.
Pentingnya mukosa hidung telah dikemukakan oleh Schäffer pada 1898. Jumlah dari bakteri dari lesi mukosa hidung di kusta lepromatosa, menurut Shepard, antara 10.000 hingga 10.000.000 bakteri.Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka. Davey dan Rees mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi 10.000.000 organisme per hari.
Pintu masuk dari M. leprae ke tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini diperkirakan bahwa kulit dan saluran pernapasan atas menjadi gerbang dari masuknya bakteri. Rees dan McDougall telah sukses mencoba penularan kusta melalui aerosol di mencit yang ditekan sistem imunnya. Laporan yang berhasil juga dikemukakan dengan pencobaan pada mencit dengan pemaparan bakteri di lubang pernapasan. Banyak ilmuwan yang mempercayai bahwa saluran pernapasan adalah rute yang paling dimungkinkan menjadi gerbang masuknya bakteri, walaupun demikian pendapat mengenai kulit belum dapat disingkirkan.
Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat dikemukakan. Beberapa peneliti berusaha mengukur masa inkubasinya. Masa inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa minggu, berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda. Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30 tahun. Hal ini dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah non-endemik. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.

H.    Bentuk-bentuk Lepra
1.      Yang pertama adalah bentuk Lepra tuberkuloid. Disebut juga dengan nama Lepra paucibacillair. Pada tahap ini pasien masih mudah disembuhkan, karena ternyata pasien LT masih punya daya-tangkis imunologi yang baik. Namun bentuk ini paling sering dijumpai, kurang lebih 75% dari jumlah penderita akan tetapi tidak bersifat menular.
Gejalanya pertama, berupa noda-noda putih pucat dikulit yang hilang-rasa dan penebalan saraf-saraf yang nyeri diberbagai tempat diseluruh tubuh, terutama di telinga, muka, kaki-tangan. Dapat merusak saraf-saraf jika tidak segera diobati, oleh karena tidak luka-luka nya yang dirasakan pasien, maka biasanya lama-kelamaan lukanya akan membentuk borok, dan membuat puntung terutama jika luka yang menginfeksi kaki-tangan (cacat hebat sekunder).
Sumbergambar:google

2.      Yang kedua adalah bentuk Lepra lepromateus. Atau sebutannya yang lain adalah Lepra multibacillair. Ini adalah bentuk tersebar yang sangat menular dan banyak terdapat basil, dengan ciri bentol merah (nodule), demam, dan anemia. Pasien yang terkena bentuk lepra yang kedua ini bisa dikatakan dengan pasien “berparas-singa”. Karena timbul deformasi akibat infiltrat di muka, kelumpuhan urat saraf-saraf muka (paresis facialis) dan mutilasi hidung karena rapuhnya tulang rawan. Bila tidak diobati, pasien yang terkena basil ini akan mengalami kerusakan organ juga.
Sumber gambar: google

3.      Bentuk Lepra yang ketiga adalah, Lepra borderline (LB), adalah bentuk kombinasi dari kedua bentuk diatas yaitu LT dan LL, yang akan terbagi lagi menjadi tiga bentuk peralihan,. Tergantung dari cirinya masing-masing apakah menjadi LTB (lepra tuberculoid borderlin), LLB (lepra lepromateus borderline), dan lepra tak tentu.
Metode pencegahan : ada baiknya anda mengetahui juga terhadap perkiraan terjangkitnya penyakit lepra, yang pertama adalah jika ada bercak-bercak pada kulit yang hilang warna pigmennya dan hilang kepekaaan terhadap perubahan suhu dan tekanan. Kedua adalah penebalan atau pekanya urat syaraf. Wapadalah terhadap hal demikian, namun setiap kejadian buruk dapat kita cegah, sebab semua kembali kepada kita lagi. Adapun pencegahan yang paling sering dilakukan adalah dengan pemberian vaksin BCG. Sementara pengobatan alami dapat diatasi dengan minyak kaulmogra sebagai terapi simptomatis (symptom/gejala = pengobatan gejala). Dan obat sintetis yang sering digunakan antara lain, DDS, rifampisin, klofazimin, dan thalidomide (yang dulu sempat ditarik karena menimbulkan focomelia).

I.       Pengobatan
Faktor penting dalam diagnosis lepra adalah inklusinya pada diagnosis banding gangguan kulit pada setiap orang yang bertempat tinggi di daerah lepra endemik. Lesi kulit anesteri dengan atau tanpa penebalan syaraf perifer sebenarnya patognomonis lepra. Biopsi kulit ketebalan penuh dari lesi aktif (diwarnai dengan pewarnaan histologi standar dan pewarnaan tahan-asam seperti Fite-Faraco)merupakan prosedur optimal untuk konfirmasi diagnosis dan klasifikasi penyakit yang tepat. Basil tahan asam jarang ditemukan pada penderita dengan penyakit indetermintae dan tuberkuloid, sehingga diagnosis pada kasus ini didasarkan pada gambaran klinis dan adanya granuloma kulit yang khas.
Uji klinis, mikrobiologi dan radiologi rutin mempunyai peran kecil atau tidak ada dalam diagnosis lepra, walaupun mereka mungkin berguna dalam mengesampingkan diagnosis lain. Berbagai assay untuk serum antibodi yang diarahkan terhadap antigen unik M.leprae telah dikembangkan, tetapi uji sekarang tidak cukup sendotif dan spesifik pada penyakit aktif untuk menjadi berguna pada tujuan diagnostik klinis.
Hanya tiga agen antimikroba yang telah terbukti secara tetap efektif pada pengobatan lepra. Sejak awal tahun 1940, dapsone (diaminodifenil sulfon) tetap merupakan dasar terapi kaerna harganya rendah, toksisitas minimal dan tersedia luas. Sayangnya, resisten sekunder cenderung berkembang ketika obat ini digunakan sebagai satu-satunya agen.
Lebih menguatirkan adalah semakin bertambahnya insiden resistensi primer yang telah dilaporkan sampai 30% penderita yang baru didiagnosis di Malaysia dan Ethiopia. Dermatitis, hepatitis dan methemoglobulinemia jarang tetapi kemungkinan mematikan. Anemia hemolitika terkait dosis yang mungkin berat, ditmeukan pada penderita dengan defisinesi glukose-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD), defisiensi methemoglobin reduktase dan hemoglobin M. Pemeriksaan kehamilan tidak menunjukkan kenaikan risiko kelainan janin.
Rifampin merupakan obat mikobakterisid yang paling tepat untuk M. Leprae mencapai kadar sangat baik dalam sel, di mana kebanyakan basil lepra menetap. Jarang dilaporkan resistensi terhadap dapson atau bila status reaksi berulang telah terjadi. Famakokinetiknya kurang dimengerti, teatpi waktu paruhnya bebeapa hari. Obat ini dngan cepat diambil oleh sel epitel, suatu sifat yang penting untuk aktivitasnya tetapi juga menimbulkan hiperpigmentasi kulit, iktiosis, serosis dan enteritis. Perubahan warna kulit coklat-kemerahan yang kuat secara kosmetik merupakan penghalang untuk digunakan dan sering mengakibatkan penghentian atau kurang ketaatan.
Dua pendekatan dianjurkan untuk menghalangi penularan lepra di daerah endemi. Pertama diarahkan pada risiko infeksi pada kontak rumah tangga penderita lepra, terutama mereka yang dengan penyakit multibasiler. Didasarkan pada pemeriksaan kontak secara periodik teratur dan pengobatan awal pada bukti adanya lepra pertama. Terapi profilaksis dicadangkan untuk lingkungan khusus sehingga dapat dihindari pengobatan tidak tepat 90-95% kontak yang tidak diharapkan untuk mengembangkan lepra.
Pendekatan kedua untuk pengendalian lepra adalah melalui vaksinasi. Akibat dari trial klinis dengan berbagai vaksin, termasuk bacile Calmette-Guerin telah mengecewakan tetapi kloning gen baru-baru ini untuk antigen utama M. Leprae telah memperbaharui harapan untuk perkembangan vaksin efektif.
Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi bakteri) yang lemah terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal. Pada 1960an, dapson tidak digunakan lagi.
Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an.
Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri. Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.
Terapi di atas lumayan mahal, maka dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44 di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah resolusi untuk menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha untuk ditekan menjadi 1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan strategi penghapusan kusta.
Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.
Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapoi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010.
Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.


BAB IV
PENUTUP

 A.    Kesimpulan


Dari apa yang dijabarkan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa penyakit lepra disebabkan oleh mikrobakteria Mycobacterium leprae, dan dapat diobati dengan terapi obat.


B.     Saran
Penyakit lepra disebabkan oleh mikrobakteri dan sehendaknya kita menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga tidak terjangkit penyakit lepra. Dan untuk yang sudah terkena penyakit leprae segera melaksanakan terapi atau pengobatan-pengobatan secara medis.











DAFTAR PUSTAKA


















LAMPIRAN
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar