MAKALAH MIKROBIOLOGI
Instruktur : Nur Indah Wiji Lestari, S.KM

Disusun Oleh :
Nama : ISTIQOMAH
AZZAHROH
NIM
: 14.15.4086
Kelas : D/KM/II
KONSENTRASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT
PROGAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulilahirabbilalamin,
puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nya,
saya dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah Mikrobiologi yang berjudul
“BAKTERI MYCOBACTERIUM LEPRAE PENYEBAB PENYAKIT LEPRAE”.
Sesuai dengan judul yang telah disebutkan di atas, dalam makalah ini kami memaparkan mengenai pengertian leprae,
penyebab leprae, ciri-ciri leprae, jenis-jenis leprae, etimologi leprae,
penyembuhan penyakit leprae, serta materi-materi lain yang berkaitan dengan
topik tersebut.
Tujuan dari
penyusunan makalah ini, selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Mikrobiologi, juga saya susun sebagai bahan pembelajaran diskusi saya.
Namun di samping itu, kami menyadari betul bahwa dalam makalah ini masih
terdapat banyak kekurangan. Dan untuk itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang sekiranya membangun dari para
pembaca sekalian agar kekurangan dalam makalah ini dapat diperbaiki dan
menjadi lebih sempurna untuk proses penambahan wawasan kita semua.
Yogyakarta, 14
Mei 2016
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR............................................................................ 1
DAFTAR ISI.......................................................................................... 2
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... 3
A. Latar
Belakang ............................................................................ 3
B. Rumusan
Masalah......................................................................... 5
C.
Tujuan........................................................................................... 5
D.
Kasus............................................................................................ 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 7
A. Kesehatan Secara Umum.............................................................. 7
B. Konsep
Sehat Sakit....................................................................... 8
C. Teori
Penyakit Lepra .................................................................... 9
BAB III. PEMBAHASAN ................................................................... 10
A.
Penertian penyakit lepra............................................................... 10
B. Sejarah penyakit lepra................................................................... 10
C. Ciri-ciri penyakit lepra.................................................................. 12
D. Etimologi Penyakit lepra.............................................................. 13
E. Epidemiologi penyakit lepra......................................................... 13
F. Penyebab penyakit lepra............................................................... 18
G. Patofisiologi penyakit lepra.......................................................... 18
H. Bentu-bentuk penyakit lepra........................................................ 20
I. Pengobatan penyakit lepra............................................................ 21
BAB VI. PENUTUP.............................................................................. 25
A.
Kesimpulan................................................................................... 25
B.
Saran............................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 26
LAMPIRAN........................................................................................... 27
BAB I
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Penyakit lepra merupakan infeksi progresif lambat yang disebabkan oleh Mycobacterium
leprae, penyakit ini mengenai kulit dan saraf perifer dengan konsekuensi
deformitas yang menimbulkan deformitas. Penyakit lepra (sejenis penyakit kulit
yang membuat tubuh penderitanya membusuk, mengering dan akhirnya tanggal satu
per satu). Penderita lepra biasanya dipandang dengan perasaan jijik dan hina. Mereka yang
terkena penyakit lepra dijauhi masyarakat karena takut akan tertular penyakit
mengerikan iut. Tidak ada yang berani mendekati, ada yang berani mendekati,
apalagi merawat para penderita lepra. Penyakit lepra merupakan penyakit negeri
dengan mudah dapat mengetahui siapa di antara mereka yang menderita penyakit
lepra.
Lepra adalah penyakit menjijikkan yang terjadi karena menyebarnya titik
hitam diseluruh tubuh dan merusak sel-sel anggota badan juga kerangka dan
bentuknya. Pada akhirnya ia pun mampu merusak sel penyambung antara satu
anggota dengan lainnya hingga seolah satu dengan lainnya saling memakan dan
berjatuhan.
Lepra adalah suatu penyakiit
kulit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Serangan kuman lepra
yang berbentuk batang ini biasanya menyerang kulit, saraf, mata, selaput lendir
hidung, otot, tulang dan buah zakar. Lepra yang disebut juga dengan
penyakit Hansen yang merupakan penyakit kulit yang diakibatkan oleh infeksi
menahun yang ditandai dengan adanya kerusakan saraf perifer yang menyerang
hampir seluruh bagian kulit.
Penyakit
lepra ini termasuk penyakit menular yang harus dihindari. Jika ada seseorang
yang menderita penyakit lepra berat dan tidak tertangani, sewaktu-waktu bakteri
lepra akan menyebar ke udara dan sekitar 50% kemungkinan tertular dengan
penyakit lepra ini. Penyakit lepra juga mudah ditularkan melalui hubungan yang
sangat dekat dengan penderita lepra itu sendiri.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan penyakit lepra?
2. Bagaimana
sejarah penyakit lepra?
3. Apa ciri-ciri
penyakit lepra?
4. Bagaimana Etimologi
penyakit lepra?
5. Bagaimana Epidemiologi penyakit lepra?
6. Apa penyebab
penyakit lepra?
7. Bagaimana Patofisiologi penyakit lepra?
8. Apa saja Bentuk-bentuk Lepra?
9. Bagaimana pengobatan penyakit lepra?
C.
Tujuan
1. Mengetahui yang
dimaksud dengan penyakit lepra
2. Mengetahui
sejarah penyakit lepra
3. Mengetahui
ciri-ciri penyakit lepra
4. Mengetahui Etimologi
penyakit lepra
5. Mengetahui Epidemiologi
penyakit lepra
6. Mengetahui
penyebab penyakit lepra
7. Mengetahui Patofisiologi penyakit lepra
8. Mengetahui Bentuk-bentuk Lepra
9. Mengetahui pengobatan penyakit lepra
D.
Kasus
Kasus penyakit lepra di Indonesia masih
tinggi, menduduki peringkat tiga di dunia. Setiap tahun tercatat 17 ribu hingga
20 ribu kasus lepra baru. "Itu yang terdeteksi, belum lagi yang tidak
lapor dan tidak diobati," kata A.B. Susanto, Duta Besar The Leprosy
Mission International untuk Indonesia dalam jumpa pers, Kamis (26/6).
Jumlah penderita di Indonesia masih lebih
tinggi di bandingkan Cina yang memiliki penduduk lebih banyak. Kasus lepra
barunya hanya 16.500. Dibandingkan negara miskin seperti Nigeria dan Etopia
juga masih lebih tinggi, kasus barunya hanya sekitar 4.000-5.000 per tahun.
Belum dapat dipastikan berapa jumlah
penderita sesungguhnya, namun diperkirakan mencapai 400 ribu - 500 ribu, dan
terus bertambah setiap tahun. Penderita penyakit lepra sebenarnya dapat sembuh
total dengan mengkonsumsi obat multydrugtherapy (MDT) selama 6-12 bulan.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
- Kesehatan Secara Umum
Pengertian Kesehatan menurut
wikipedia adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan
Pengertian Kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948
menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan
fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau
kelemahan”
Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam
Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah
“sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup Kesehatan adalah
konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan
fisik.
Pengertian Kesehatan Menurut Undang-Undang
Dalam Undang-Undang ini yang pengertian kesehatan adalah:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif
secara sosial dan ekonomis.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan
atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Sarana kesehatan adalah tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna.
Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya
penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
Pendidikan kesehatan adalah proses
membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara
kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang
memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
Definisi yang bahkan lebih sederhana
diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan
kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk
mempermudahadaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
- Konsep Sehat Sakit
1. Sehat menurut
WHO.
Sehat: a
state of complete physical, mental, and social well being and not merely the
absence of illness or indemnity. (sesuatu keadaan yang sejahtera
menyeluruh baik fisik, mental, dan social dan tidak hanya bebas dari penyakit
atau kelemahan).
2. Sakit
adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian,
kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari
fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan.
- Teori Penyakit Lepra
Penyakit
kusta adalah suatu penyakit kronis
menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
leprae. Penyakit ini terutama menyerang pada masyarakat
dinegara-negara berkembang dan menimbulkan dampak psikologis, sosial dan
ekonomi. M. leprae yang merupakan
basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler, menyerang sel saraf
perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas, hati,
dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.
Menurut Departemen Kesehatan Ditjen P2MPLP (1999) dan WHO
(1995) penyakit ini dapat diklasifikasikan
menjadi dua tipe yaitu Pause
Basilier (PB) dan Multi Basier
(MB). Secara awam kusta dikenal ada dua macam yakni kusta kering dan kusta
basah. Jika kusta terlambat diobati maka akan timbul kerusakan saraf dengan
akibat berupa mati rasa (terhadap stimulus panas, dingin, nyeri), kelumpuhan
otot, buta, dan akibat lain yang disebabkan oleh proses immunologis yang
disebut reaksi kusta. Setelah M. leprae
masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan
seseorang. Respon
tubuh terhadap masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem immunitas
seluler (cellular mediated immune)
pasien. Kalau sistem immunitas seluler tinggi, penyakit berkembang kearah
tuberkuloid dan bila rendah, berkembang kearah lepromatosa.
Teori yang paling banyak digunakan adalah penularan
melalui kontak/sentuhan yang berlangsung lama, namun berbagai penelitian
mutakhir mengarah pada droplet infection yaitu penularan melalui selaput lendir
pada saluran napas. M. leprae tidak dapat bergerak sendiri dan
tidak menghasilkan racun yang dapat merusak kulit, sedangkan ukuran fisiknya
yang lebih besar dari pada pori-pori kulit. Oleh karena itu, M. leprae yang karena sesuatu hal
menempel pada kulit kita, tidak dapat menembus kulit jika tidak ada luka pada
kulit.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Lepra
Penyakit lepra atau kusta adalah
penyakit yang terjadi secara menahun yang muncul dengan secara lambat, biasanya
selama bertahun-tahun terjadi. Penyakit
lepra atau kusta ini bisa ditularkan dengan mudah, biasanya mereka yang tinggal
satu rumah dengan penderita lepra atau kusta ini akan dengan mudah terserang
juga. Gejala dari penyakit lepra atau kusta salah satunya ditandai
dengan hilangnya daya rasa atau kebal, biasanya gejala awalnya ditandai di
daerah tangan dan juga kaki. Kemudian kadang-kadang mereka yang menderita akan
merasakan rasa terbakar tanpa diketahui, karena tidak bisa merasakan panas atau
merasakan sakit.
Lepra adalah penyakit kronik yang dihasilkan oleh infeksi dengan Mycobacterium
leprae dan terjadi repson hospes. Organ yang paling mencolok terkena adalah
kulit dan sistem syaraf perifer, tetapi keterlibatan saluran pernapasan atas,
testis dan mata juga relatif sering. Manusia telah lama diduga merupakan
satu-satunya hospes M. Leprae, tetapi infeksi yang didapat secara alamiah telah
didokumentasi pada armadillo di Amerika Serikat selatan timur dan infeksi
percobaan telah dilakukan pada primata, tikus telanjang dan armadillo.
Lesi kulit kronik, madarosis,
neuropati sensori yang menyebabkan kehilangan jari-jari atau tungkai dan
paresis akibat disfungsi saraf motoris merupakan sekule lepra. Sifat kelemahan
yang sangat dapat dilihat ini menimbulkan kecacatan historis “lepra”. Sekule
psikologis dan sosisologis dari stigma ini dapat melemahkan seperti penyakitnya
sendiri dan dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencari perhatian medik.
Untuk mengatasi prasangka ini, istilah penderita lepra telah mengganti kata
lepra dan penyakit Hansen telah menjadi nama yang diterima.
B.
Sejarah
Konon, kusta telah menyerang manusia
sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuna, Mesir kuna, dan India.[6] Pada 1995, Organisasi Kesehatan
Dunia
(WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa yang cacat permanen
karena kusta.[7] Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan
masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis, beberapa kelompok penderita masih
dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti India dan Vietnam.
Pengobatan yang efektif terhadap
penyakit kusta ditemukan pada akir 1940-an dengan diperkenalkannya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga,
bakteri penyebab lepra secara bertahap menjadi kebal terhadap dapson dan
menjadi kian menyebar. Hal ini terjadi hingga ditemukannya pengobatan multiobat
pada awal 1980-an dan penyakit ini pun mampu
ditangani kembali.
v M. Leprae
yang terinhalasi difagositosis oleh monosit dan makrofag pulmoner menyebabkan
penyebaran lewat darah, tetapi kuman tersebut terutama hanya tumbuh dalam
jaringan perifer yang lebih ringan.
v Penyakit
lepra memiliki dua pola penyakit (bergantung pada respons imun hospes):
a. Penyakit lepra tuberkuloid : lesi kulit yang kering, bersisik
dan tak kentara yang disertai gangguan sensibilitas dan lesi saraf perifer yang
asimetrik.
b. Penyakit lepra lepromatosa (anergik) : penebalan kulit dan pembentukan
nodul yang menimbulkan cacat tubuh dengan disertai keruskaan pada sistem sara
akibat invasi mikobakterium ke dalam sel-sel makrofag perineural dan sel-sel
Schwan.
c. Penyakit lepra tuberkuloid disertai dengan respons T-helper tipe 1
(IFN-y) dan penyakit lepra lepramatosa disertai dengan respons T-helper tipe 2
yang tidak efektif.
Selain itu penyakit lepra yang melepaskan bakteri
lepra juga mudah ditularkan melalui serangga seperti nyamuk, kutu busuk, atau
melalui benda yang biasa digunakan oleh penderita lepra. Mereka yang tidak tertular penyakit lepra berarti memiliki pertahanan
sistem kekebalan tubuh yang baik, karena penyakit lepra terbagi menjadi yakni
penyakit lepra ringan (lepra tuberkuloid) dan penyakit lepra berat (lepra
lepromatosa).
Gejala dari penyakit lepra atau kusta yang lainnya adalah bercak pucat atau bercak yang besar seperti
bercak jamur yang biasanya pada bagian tengahnya ini mengalami kehilangan untuk
merasa, bengkaknya saraf yang pada akhirnya membentuk seperti benjolan atau
juga tali yang tebal yang ada di bawah kulit, serta luka yang melebar dan terjadi
secara menahun, namun hal ini tidak menimbulkan gatal atau juga sakit.
Gejala yang terjadi dari penyakit lepra atau kusta yang menyerang wajah
adalah kulit wajah yang terasa tebal dan juga berbenjol-benjol, atau daun
telinganya menjadi tebal, pendek dan berbentuk persegi. Alis mata
yang rontok dimulai dari luar dan kemudian semuanya.
Gejala
selanjutnya ditandai dengan lumpuhnya kaki atau tangan yang menyerupai dengan
clawhand atau cakar. Jari-jari tangan dan kaki ni biasanya akan menjadi lebih
pendek dan akan terlihat seperti puntung. Cara mengobati penyakit lepra atau
kusta ini bisa dilakukan namun membutuhkan waktu yang bertahun-tahun. Salah
satu obat yang bisa mengatasi dan mengobati penyakit kusta atau lepra
ini adalah sulfon. Jika yang dirasa reaksi lepranya berbentuk panas, ruam,
sakit dan juga dirasa mengalami pembengkakan pada tangan atau kaki, atau juga
kerusakan pada mata, maka tetaplah untuk minum obat tesebut dan tetap lakukan
pemeriksaan ke dokter untuk mengontrol keadaan.
C.
Ciri-ciri
lepra.
Lesi
kulit pada paha.
Manifestasi klinis dari kusta sangat
beragam, namun terutama mengenai kulit, saraf, dan membran mukosa.[8] Pasien dengan penyakit ini dapat dikelompokkan lagi menjadi
'kusta tuberkuloid (Inggris: paucibacillary), kusta lepromatosa (penyakit
Hansen multibasiler), atau kusta multibasiler (borderline leprosy).
Kusta multibasiler, dengan tingkat
keparahan yang sedang, adalah tipe yang sering ditemukan. Terdapat lesi kulit
yang menyerupai kusta tuberkuloid namun jumlahnya lebih banyak dan tak
beraturan; bagian yang besar dapat mengganggu seluruh tungkai, dan gangguan
saraf tepi dengan kelemahan dan kehilangan rasa rangsang. Tipe ini tidak stabil
dan dapat menjadi seperti kusta lepromatosa atau kusta tuberkuloid.
Kusta tuberkuloid ditandai dengan
satu atau lebih hipopigmentasimakula kulit dan bagian yang tidak berasa
(anestetik).
Kusta
lepormatosa dihubungkan dengan lesi, nodul, plak kulit
simetris, dermis kulit yang menipis, dan perkembangan pada mukosa hidung yang
menyebabkan penyumbatan hidung (kongesti nasal) dan epistaksis (hidung
berdarah) namun pendeteksian terhadap kerusakan saraf sering kali terlambat.
Tidak sejalan dengan mitos atau
kepercayaan yang ada, penyakit ini tidak menyebabkan pembusukan bagian tubuh.
Menurut penelitian yang lama oleh Paul
Brand,
disebutkan bahwa ketidakberdayaan merasakan rangsang pada anggota gerak sering
menyebabkan luka atau lesi. Kini, kusta juga dapat menyebabkan masalah pada
penderita AIDS.
D.
Etimologi penyakit lepra
Mycobacterium leprae adalah basil tahan asam dari famili
mikobakteriaseae. Multipliksi M.leprae yang sangat lambat diamati pada model
binatang yang sebagian dapat menjelaskan masa inkubasi yang lama yang ditemukan
pada penyakit manusia: masa 3-5 tahun diduga khas.
Kejadian lepra yang jarnag pada bayi semuda umur 3 bulan memberi kesan
bahwa penularan dalam rahim dapat terjadi atau bahwa masa inkubasi yang amat
pendek dimungkinkan pada keadaan tertentu. Model penularan yang mungkin
termasuk kontak dengan epidermis lepas yang terinfeksi, minum ASI yang
terinfeksi dan gigitan nyamuk atau vektor lain. Namun, sekarang penularan
melalui sekresi hidung yang terinfeksi tampak merupakan dasar pada kebanyakan
infeksi. Keterlibatan nasofaring yang luas ditampakkan sebagai rhinitis kronik
lazim pada penyakit lepratomatosa.
E.
Epidemiologi penyakit lepra
Organisasi
kesehatan sedunia (WHO) memperkirakan bahwa diseluruh dunia ada 11 juta kasus
lepra pada tahun 1975. Gambaran ini harus dianggap perkiraan yang kurang karena
penemuan dan laporan kasus tidak cukup. Mulainya penyakit yang tersembunyi dan
laporan kasus tidak cukup. Mulainya penyakit yang tersembunyi dan stigma sosial
menyebabkan penundaan konsultasi medik dan tidak adanya uji diagnostik
sederhana, tidak mahal, membuat konfirmasi diagnosis kulit.
Kebanyakan pasien lepra dunia ada di Afrika, India, Asia Tenggara,
Amerika Tengah dan Selatan. Angka prevalensi sangat bervariasi antara dan di
dalam negara; frekuensi tertinggi untuk seluruh negeri adalah 25 kasus atau
lebih per 1.000 populasi, tetapi frekuensi setinggi 200 kasus per 1.000
populasi terdapat dalam kantong-kantong hiperendemik kecil.
Penularan dari
orang ke orang merupakan sebagian besar kasus yang menumpangi; sebagian besar
dari mereka terjadi pada anggota keluarga atau pada kontak dekat penderita yang
diketahui. Sekitar 200 kasus dilaporkan setiap tahun di Amerika Sderikat,
darinya 90% adalah pada imigran. Sisanya 10 % berkembang pada tempat yang
terlokalisasi sepanjang pantai Gulf (Guls coast) di Hawai dan di teritorial
Mikronesia.
Lepra
terjadi pada semua umur, tetapi infeksi pada bayi sangat jarang; insiden
frekuensi puncak selama masa anak dan masa dewasa awal di deerah endemik.
Infeksi virus imundefisinesi manusia dapat mengubah risiko lepra didaerah
prevalensi yang tinggi untuk kedua patogen.
Lepra atau lebih dikenal dengan
kusta adalah salah satu penyakit yang tingkat daya penularannya besar, dengan
masa inkubasi rata-rata 5-6 tahun. Orang yang menemukan penyakit lepra ini
menurut sejarah adalah seorang dokter dari norwegia Hansen. Sehingga penyakit
ini dinamai dengan penyakit Hansen. Basil penyebab lepra sangat mirip dengan
basil TBC, yakni sangat ulet dan terdapat lapisan lilin (wax) sehingga
Mycobacterium leprae ini sangat sulit ditembus obat, dan tahan asam lambung
serta pertumbuhan yang sangat lambat.
Sekarang kita bahas bagaimana cara penularannya, pria diketahui lebih berpotensi terinfeksi terhadap bakteri ini. Lepra bersifat menular ketika berbentuk Lepra Lepromateus, infeksi-tetes di saluran pernafasan (batuk, ingus, dan bersin) terutama terhadap kontak yang sudah lama. Selain melalui pernafasan, penularan secara genetik juga di perkirakan menimbulkan hasil uji positif adanya bakteri tersebut. Akan tetapi penelitian menunjukan bahwa hanya 5-10% dari semua penduduk di suatu daerah yang terinfeksi M.leprae. Ini dikarenakan M.leprae lebih berpotensi menginfeksi manusia dengan system imun rendah (immunodeficient) dan apabila sudah menginfeksi maka peka sekali untuk menularkannya. Sebab menurut penitian, beberapa di Negara barat, praktis sudah sama sekali tidak ada, dan itu dikarenakan ketahanan penduduknya tinggi terhadap basil lepra dan karena mayoritas penduduk berkehidupan baik dan mengkonsumsi makanan dengan gizi baik.
Kebanyakan penyakit ini terdapat di Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika. Jumlah pasien yang terbesar ada di India ( 950000) disusul Brasil (175000) dan Bangladesh ( 136000). Sementara di Negara kita sendiri pernah mencatat pada tahun 2004 terdapat kurang lebih 36 ribu kasus yang terdaftar maupun yang baru terdeteksi.
Sekarang kita bahas bagaimana cara penularannya, pria diketahui lebih berpotensi terinfeksi terhadap bakteri ini. Lepra bersifat menular ketika berbentuk Lepra Lepromateus, infeksi-tetes di saluran pernafasan (batuk, ingus, dan bersin) terutama terhadap kontak yang sudah lama. Selain melalui pernafasan, penularan secara genetik juga di perkirakan menimbulkan hasil uji positif adanya bakteri tersebut. Akan tetapi penelitian menunjukan bahwa hanya 5-10% dari semua penduduk di suatu daerah yang terinfeksi M.leprae. Ini dikarenakan M.leprae lebih berpotensi menginfeksi manusia dengan system imun rendah (immunodeficient) dan apabila sudah menginfeksi maka peka sekali untuk menularkannya. Sebab menurut penitian, beberapa di Negara barat, praktis sudah sama sekali tidak ada, dan itu dikarenakan ketahanan penduduknya tinggi terhadap basil lepra dan karena mayoritas penduduk berkehidupan baik dan mengkonsumsi makanan dengan gizi baik.
Kebanyakan penyakit ini terdapat di Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika. Jumlah pasien yang terbesar ada di India ( 950000) disusul Brasil (175000) dan Bangladesh ( 136000). Sementara di Negara kita sendiri pernah mencatat pada tahun 2004 terdapat kurang lebih 36 ribu kasus yang terdaftar maupun yang baru terdeteksi.
Distribusi
penyakit kusta dunia pada 2003.
Di seluruh dunia, dua hingga tiga
juta orang diperkirakan menderita kusta. India adalah negara dengan jumlah
penderita terbesar, diikuti oleh Brasil dan Myanmar.
Pada 1999, insidensi penyakit kusta di dunia
diperkirakan 640.000, pada 2000, 738.284 kasus ditemukan. Pada 1999, 108 kasus terjadi di Amerika Serikat. Pada 2000, WHO membuat daftar 91
negara yang endemik kusta. 70% kasus dunia terdapat di India, Myanmar, dan Nepal. Pada 2002, 763.917 kasus ditemukan di seluruh
dunia, dan menurut WHO pada tahun itu, 90% kasus kusta dunia terdapat di Brasil, Madagaskar, Mozambik, Tanzania dan Nepal.
Kelompok
berisiko
Kelompok yang
berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan
kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak
bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV
yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi
dari wanita.
Situasi global
Tabel 1: Prevalensi pada awal 2006, dan tren penemuan kasus baru
pada 2001-2005, tidak termasuk di Eropa
|
||||||
Daerah
|
Prevalensi
terdaftar
(rate/10,000
pop.)
|
Kasus
baru yang ditemukan pada tahun
|
||||
Awal
2006
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
|
40.830
(0.56)
|
39.612
|
48.248
|
47.006
|
46.918
|
42.814
|
|
32.904
(0.39)
|
42.830
|
39.939
|
52.435
|
52.662
|
41.780
|
|
133.422
(0.81)
|
668.658
|
520.632
|
405.147
|
298.603
|
201.635
|
|
Mediterania
Timur
|
4.024
(0.09)
|
4.758
|
4.665
|
3.940
|
3.392
|
3.133
|
8.646
(0.05)
|
7.404
|
7.154
|
6.190
|
6.216
|
7.137
|
|
Total
|
219.826
|
763.262
|
620.638
|
514.718
|
407.791
|
296.499
|
Sebagaimana yang dlaporkan oleh WHO
pada 115 negara dan teritori pada 2006 dan diterbitkan di Weekly
Epidemiological Record, prevalensi terdaftar kusta pada awal tahun 2006
adalah 219.826 kasus. Penemuan kasus baru pada tahun sebelumnya adlaah 296.499
kasus. Alasan jumlah penemuan tahunan lebih tinggi dari prevalensi akhir tahun
dijelaskan dengan adanya fakta bahwa proporsi kasus baru yang terapinya selesai
pada tahun yang sama sehingga tidak lagi dimasukkan ke prevalensi terdaftar.
Penemuan secara globa terhadap kasus baru menunjukkan penurunan.
F.
Penyebab
leprae
Mycobacterium leprae adalah penyebab dari kusta. Sebuah
bakteri yang tahan
asamM.
leprae juga
merupakan bakteri aerobik, gram positif, berbentuk batang, dan dikelilimgi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium.M. leprae belum dapat
dikultur pada laboratorium.
G.
Patofisiologi
Mekanisme penularan yang tepat belum
diketahui. Beberapa hipotesis telah dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan
penularan dari udara. Selain manusia, hewan yang dapat tekena kusta adalah armadilo, simpanse, dan monyet pemakan
kepiting.Terdapat
bukti bahwa tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman M. leprae
menderita kusta, dan diduga faktor genetika juga ikut berperan, setelah melalui
penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di keluarga tertentu.
Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada setiap
individu.Faktor ketidakcukupan gizi juga diduga merupakan faktor penyebab.
Penyakit ini sering dipercaya bahwa
penularannya disebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dan orang yang
sehat. Dalam penelitian terhadap insidensi, tingkat infeksi untuk kontak lepra
lepromatosa beragam dari 6,2 per 1000 per tahun di Cebu, Philipina[ hingga 55,8 per 1000 per tahun di India Selatan.
Dua pintu keluar dari M. leprae
dari tubuh manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung. Telah
dibuktikan bahwa kasus lepromatosa menunjukkan adanya sejumlah organisme di dermis kulit. Bagaimanapun masih belum
dapat dibuktikan bahwa organisme tersebut dapat berpindah ke permukaan kulit.
Walaupun terdapat laporan bahwa ditemukanya bakteri tahan asam di epiteldeskuamosa di kulit, Weddel et al
melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bakteri tahan asam di epidermis. Dalam penelitian terbaru, Job et al menemukan
adanya sejumlah M. leprae yang besar di lapisan keratinsuperfisial kulit di penderita kusta
lepromatosa. Hal ini membentuk sebuah pendugaan bahwa organisme tersebut dapat
keluar melalui kelenjar keringat.
Pentingnya mukosa hidung telah
dikemukakan oleh Schäffer pada 1898. Jumlah dari bakteri dari lesi
mukosa hidung di kusta lepromatosa, menurut Shepard, antara 10.000 hingga
10.000.000 bakteri.Pedley melaporkan bahwa sebagian besar pasien lepromatosa
memperlihatkan adanya bakteri di sekret hidung mereka. Davey dan Rees
mengindikasi bahwa sekret hidung dari pasien lepromatosa dapat memproduksi
10.000.000 organisme per hari.
Pintu masuk dari M. leprae ke
tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini diperkirakan bahwa kulit dan
saluran pernapasan atas menjadi gerbang dari masuknya bakteri. Rees dan
McDougall telah sukses mencoba penularan kusta melalui aerosol di mencit yang ditekan sistem imunnya. Laporan yang berhasil
juga dikemukakan dengan pencobaan pada mencit dengan pemaparan bakteri di
lubang pernapasan. Banyak ilmuwan yang mempercayai bahwa saluran pernapasan
adalah rute yang paling dimungkinkan menjadi gerbang masuknya bakteri, walaupun
demikian pendapat mengenai kulit belum dapat disingkirkan.
Masa
inkubasi
pasti dari kusta belum dapat dikemukakan. Beberapa peneliti berusaha mengukur
masa inkubasinya. Masa inkubasi minimum dilaporkan adalah beberapa minggu,
berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi muda. Masa inkubasi maksimum
dilaporkan selama 30 tahun. Hal ini dilaporan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah terekspos di daerah endemik dan kemudian
berpindah ke daerah non-endemik. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa
inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.
H.
Bentuk-bentuk Lepra
1. Yang pertama adalah bentuk Lepra
tuberkuloid. Disebut juga dengan nama Lepra paucibacillair. Pada tahap ini
pasien masih mudah disembuhkan, karena ternyata pasien LT masih punya
daya-tangkis imunologi yang baik. Namun bentuk ini paling sering dijumpai,
kurang lebih 75% dari jumlah penderita akan tetapi tidak bersifat menular.
Gejalanya pertama, berupa noda-noda putih pucat dikulit
yang hilang-rasa dan penebalan saraf-saraf yang nyeri diberbagai tempat
diseluruh tubuh, terutama di telinga, muka, kaki-tangan. Dapat merusak saraf-saraf jika tidak
segera diobati, oleh karena tidak luka-luka nya yang dirasakan pasien, maka
biasanya lama-kelamaan lukanya akan membentuk borok, dan membuat puntung
terutama jika luka yang menginfeksi kaki-tangan (cacat hebat sekunder).
Sumbergambar:google
2.
Yang
kedua adalah bentuk Lepra lepromateus. Atau sebutannya yang lain adalah Lepra
multibacillair. Ini adalah bentuk tersebar yang sangat menular dan banyak
terdapat basil, dengan ciri bentol merah (nodule), demam, dan anemia. Pasien yang
terkena bentuk lepra yang kedua ini bisa dikatakan dengan pasien
“berparas-singa”. Karena timbul deformasi akibat infiltrat di muka, kelumpuhan
urat saraf-saraf muka (paresis facialis) dan mutilasi hidung karena rapuhnya
tulang rawan. Bila tidak diobati, pasien yang terkena basil ini akan mengalami
kerusakan organ juga.
Sumber
gambar: google
3. Bentuk Lepra
yang ketiga adalah, Lepra borderline (LB), adalah bentuk kombinasi dari kedua
bentuk diatas yaitu LT dan LL, yang akan terbagi lagi menjadi tiga bentuk
peralihan,. Tergantung
dari cirinya masing-masing apakah menjadi LTB (lepra tuberculoid borderlin),
LLB (lepra lepromateus borderline), dan lepra tak tentu.
Metode pencegahan : ada baiknya anda
mengetahui juga terhadap perkiraan terjangkitnya penyakit lepra, yang pertama
adalah jika ada bercak-bercak pada kulit yang hilang warna pigmennya dan hilang
kepekaaan terhadap perubahan suhu dan tekanan. Kedua adalah penebalan atau pekanya urat syaraf. Wapadalah
terhadap hal demikian, namun setiap kejadian buruk dapat kita cegah, sebab
semua kembali kepada kita lagi. Adapun pencegahan yang paling sering dilakukan
adalah dengan pemberian vaksin BCG. Sementara pengobatan alami dapat diatasi
dengan minyak kaulmogra sebagai terapi simptomatis (symptom/gejala = pengobatan
gejala). Dan obat sintetis yang sering digunakan antara lain, DDS, rifampisin,
klofazimin, dan thalidomide (yang dulu sempat ditarik karena menimbulkan
focomelia).
I.
Pengobatan
Faktor
penting dalam diagnosis lepra adalah inklusinya pada diagnosis banding gangguan
kulit pada setiap orang yang bertempat tinggi di daerah lepra endemik. Lesi
kulit anesteri dengan atau tanpa penebalan syaraf perifer sebenarnya
patognomonis lepra. Biopsi kulit ketebalan penuh dari lesi aktif (diwarnai
dengan pewarnaan histologi standar dan pewarnaan tahan-asam seperti
Fite-Faraco)merupakan prosedur optimal untuk konfirmasi diagnosis dan
klasifikasi penyakit yang tepat. Basil tahan asam jarang ditemukan pada
penderita dengan penyakit indetermintae dan tuberkuloid, sehingga diagnosis
pada kasus ini didasarkan pada gambaran klinis dan adanya granuloma kulit yang
khas.
Uji klinis,
mikrobiologi dan radiologi rutin mempunyai peran kecil atau tidak ada dalam
diagnosis lepra, walaupun mereka mungkin berguna dalam mengesampingkan
diagnosis lain. Berbagai assay untuk serum antibodi yang diarahkan terhadap
antigen unik M.leprae telah dikembangkan, tetapi uji sekarang tidak cukup
sendotif dan spesifik pada penyakit aktif untuk menjadi berguna pada tujuan
diagnostik klinis.
Hanya tiga
agen antimikroba yang telah terbukti secara tetap efektif pada pengobatan
lepra. Sejak awal tahun 1940, dapsone (diaminodifenil sulfon) tetap merupakan
dasar terapi kaerna harganya rendah, toksisitas minimal dan tersedia luas.
Sayangnya, resisten sekunder cenderung berkembang ketika obat ini digunakan
sebagai satu-satunya agen.
Lebih
menguatirkan adalah semakin bertambahnya insiden resistensi primer yang telah
dilaporkan sampai 30% penderita yang baru didiagnosis di Malaysia dan Ethiopia.
Dermatitis, hepatitis dan methemoglobulinemia jarang tetapi kemungkinan
mematikan. Anemia hemolitika terkait dosis yang mungkin berat, ditmeukan pada
penderita dengan defisinesi glukose-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD), defisiensi
methemoglobin reduktase dan hemoglobin M. Pemeriksaan kehamilan tidak
menunjukkan kenaikan risiko kelainan janin.
Rifampin merupakan obat mikobakterisid yang paling tepat untuk M. Leprae
mencapai kadar sangat baik dalam sel, di mana kebanyakan basil lepra menetap.
Jarang dilaporkan resistensi terhadap dapson atau bila status reaksi berulang
telah terjadi. Famakokinetiknya kurang dimengerti, teatpi waktu paruhnya
bebeapa hari. Obat ini dngan cepat diambil oleh sel epitel, suatu sifat yang
penting untuk aktivitasnya tetapi juga menimbulkan hiperpigmentasi kulit,
iktiosis, serosis dan enteritis. Perubahan warna kulit coklat-kemerahan yang
kuat secara kosmetik merupakan penghalang untuk digunakan dan sering
mengakibatkan penghentian atau kurang ketaatan.
Dua
pendekatan dianjurkan untuk menghalangi penularan lepra di daerah endemi.
Pertama diarahkan pada risiko infeksi pada kontak rumah tangga penderita lepra,
terutama mereka yang dengan penyakit multibasiler. Didasarkan pada pemeriksaan
kontak secara periodik teratur dan pengobatan awal pada bukti adanya lepra pertama.
Terapi profilaksis dicadangkan untuk
lingkungan khusus sehingga dapat dihindari pengobatan tidak tepat 90-95% kontak
yang tidak diharapkan untuk mengembangkan lepra.
Pendekatan kedua untuk pengendalian lepra adalah melalui vaksinasi.
Akibat dari trial klinis dengan berbagai vaksin, termasuk bacile
Calmette-Guerin telah mengecewakan tetapi kloning gen baru-baru ini untuk
antigen utama M. Leprae telah memperbaharui harapan untuk perkembangan vaksin
efektif.
Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada pengobatan
yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal (pembasmi
bakteri) yang lemah terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson
menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal. Pada 1960an, dapson tidak digunakan
lagi.
Pencarian terhadap obat anti kusta
yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan klofazimin dan rifampisin pada
1960an dan 1970an.
Kemudian, Shantaram Yawalkar dan
rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk
mengakali kekebalan bakteri. Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat di atas
pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar
pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk
mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.
Terapi di atas lumayan mahal, maka
dari itu cukup sulit untuk masuk ke negara yang endemik. Pada 1985, kusta masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat di 122 negara. Pada Pertemuan Kesehatan Dunia (WHA) ke-44
di Jenewa, 1991, menelurkan sebuah resolusi untuk
menghapus kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000, dan berusaha untuk ditekan menjadi
1 kasus per 100.000. WHO diberikan mandat untuk mengembangkan strategi
penghapusan kusta.
Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi
Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe
terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk
kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah
pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.
Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapoi
kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi
ini akan bejalan hingga akhir 2010.
Pengobatan multiobat masih efektif
dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman
dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari apa yang dijabarkan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa penyakit lepra
disebabkan oleh mikrobakteria Mycobacterium leprae, dan dapat diobati
dengan terapi obat.
B.
Saran
Penyakit lepra disebabkan oleh mikrobakteri dan sehendaknya kita menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga tidak terjangkit penyakit lepra. Dan untuk yang sudah terkena penyakit leprae segera melaksanakan terapi atau pengobatan-pengobatan secara medis.
Penyakit lepra disebabkan oleh mikrobakteri dan sehendaknya kita menjaga kebersihan diri dan lingkungan sehingga tidak terjangkit penyakit lepra. Dan untuk yang sudah terkena penyakit leprae segera melaksanakan terapi atau pengobatan-pengobatan secara medis.
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar