Sabtu, 14 Mei 2016

hasil observasi



LAPORAN OBSERVASI

PENGARUH SANITASI BURUK TERHADAP
PENYAKIT DIARE

Description: C:\Users\regina\Documents\431314_10150696485855407_38350429_n.jpg

Penyusun :
Nama   :  Istiqomah Azzahroh
NIM     :  14.15.4086                               
Kelas    :  D/KM/II

KONSENTRASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT
PROGAM STUDI  KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016

i
 
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya, penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah hasil observasi di desa Papahan Karanganyar dengan tema “Pengaruh Sanitasi Buruk Terhadap Penyakit Diare”.
Selama peroses penulisan makalah hasil observasi ini, penulis mengalami banyak hal terutama kekurangfokusan proses pembuatan makalah dikarenakan bertepatan dengan liburan serta kelengkapan isi maupun sumber dari makalah ini. Dan terima kasih kepada warga penduduk desa Papahan Karanganyar yang telah bersedia memberikan penjelasan dan keterangan sebagai pelengkap isi observasi yang penulis lakukan.
            Akhiranya penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan observasi masih banyak kekurangan. Karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan laporan ini. Demikian kata pengantar ini penulis buat, semoga dapat bermanfaat, khsusnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Semoga karya kecil ini dapat memberikan kontribusi secara bermakna dalam pengenalan lebih mendalam tentang pentingnya kesehatan dengan lebih memperhatikan sanitasi lingkungan sesuai poin-poin yang telah dijelaskan.

                                                                                    Yogyakarta, 6 Februari 2016




ii
 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... 1
      A. Profil Desa ................................................................................... 1
      B. Latar Belakang............................................................................. 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 7
      A. Teori Ilmu Kesehatan Masyarakat ............................................... 7
      B. Penyakit yang Ditemukan ........................................................... 8
      C. Penyebab Masalah........................................................................ 12
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................ 21
      A. Hasil Observasi............................................................................. 21
      B. Pembahasan.................................................................................. 23
BAB VI. PENUTUP.............................................................................. 26
      A. Kesimpulan................................................................................... 26
      B. Saran............................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 27
LAMPIRAN........................................................................................... 28


BAB I
PENDAHULUAN
A. Profil Desa
1.      Demografi Desa Papahan Karanganyar
Dalam pelaksanaan pembangunan jumlah penduduk dapat sebagai penentu arah kebijakan kegiatan desa, mengingat bahwa  aset desa ini  memiliki peran ganda sebagai subyek  maupun obyek kegiatan. Struktur Penduduk berdasarkan Kelompok Umur,  Jenis Kelamin dan Penyebaran pada Wilayah sebagai berikut :

               UMUR  :
NO
KELOMPOK UMUR
Laki – Laki
Perempuan
1
2
3
4
1.
0 – 5 tahun
285
287
2.
6 – 12 tahun
273
274
3.
13 – 18 tahun
285
285
4.
19 – 25 tahun
284
285
5.
26 – 40 tahun
811
875
6.
41 – 60 tahun
1.000
999
7.
60 tahun – ke atas
370
240

JUMLAH  :

Jumlah Jiwa                             :
7.101 orang.
Jumlah Laki-laki                      : 3.584 orang. 
Jumlah Perempuan                  : 3.517 orang.
Jumlah Kepala Keluarga         : 1.977 orang.

MUTASI PENDUDUK :
Datang        
               :              91 orang.
Pindah                         :           138 orang.
Lahir                            :           101 orang.
Meninggal                   :           41 orang.

PENDIDIKAN
Tingkat pendidikan masyarakat dari tahun ke tahun terus berkembang kejenjang lebih tinggi, dengan hasil Capaian dalam tahun 2012, yang lulus dari jenjang tingkatan pendidikan sebagai berikut:

Pendidikan Terakhir
SD/MIsederajat                       2.043 orang. 
SLTP/MTS/Sedarajat              2.254 orang. 
SLTA/SMK/MA/Sedarajat     1.469 orang.
D I – D III                              225 orang
S I / D IV                                =  108 orang
S II – S III                              =23 orang

  AGAMA
NO
KELOMPOK AGAMA
Laki – Laki
Perempuan
1
2
3
4
1.
ISLAM
3.383
3.303
2.
KRISTEN
72
89
3.
KATHOLIK
119
127
4.
HINDU
3
5
5.
BUDHA
0
0
                                                           



 PENYEBARAN PENDUDUK
Penyebaran penduduk desa Papahan tersebar pada wilayah  masing-masing dusun  sebagaimana tersebut pada tabel:

DUSUN

JUMLAH PENDUDUK

JUMLAH KK
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
1
2
3
4
Kodokan
472
443
265
Papahan
560
557
305
Ngablak
756
777
424
Pandes
438
471
270
Kalongan Kulon
572
534
307
Kalongan Wetan
370
381
208
Perum GPI
416
354
198
Jumlah
3.584
3.517
1.977

           Jenis Pekerjaan

PNS                                         : 477

TNI/POLRI                            : 32
Karyawan Swasta                   :  789 
Wiraswasta/Pedagang             : 134
Tani                                         : 185
Buruh Tani                              : 189 
Pertukangan                            : 274 
Angkutan                                :   
Jasa                                          : 31 
Pensiunan                                :  154 
Lainnya                                   :  
Jumlah                                   :2.265

2.      Geografi Desa Papahan Karanganyar
Desa Papahan Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar secara geografis terletak di 110º 48΄ 55,12″ BT dan terletak di 7º 02΄ 27,52″ LS. Secara topografi Desa Papahan termasuk dalam kategori Daerah dataran rendah dengan ketinggian ±50 meter dari permukaan laut (mdpl).
Adapun batas-batas wilayah Desa Papahan Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar adalah sebagai berikut, sebagaimana disajikan pada Gambar 2.1 berikut ini :
a)      Sebelah Utara              : Desa Ngijo, Kec. Tasikmadu
b)      Sebelah Timur             : Kelurahan Cangakan, Kec. Karanganyar
c)      Sebelah Selatan           : Kelurahan Cangakan, Kec. Karanganyar   dan Desa Jati, Kec. Jaten
d)     Sebelah Barat              : Desa Jaten, Kec. Jaten dan  Desa Buran Kec. Tasikmadu

Luas Wilayah
Adapun luas wilayah Desa Papahan adalah 339,905 Ha yang terdiri dari :
a)                            Tanah sawah : 238,182 Ha
b)                            Tanah bukan sawah : 101,723 Ha
c)                            Tanah sawah seluas 238,182 Ha terdiri dari :
ü       Irigasi Teknis : 58,879 Ha
ü       Irigasi setengah Teknis : 78,303 Ha
ü       Tadah Hujan :101,000 Ha
d) Tanah bukan sawah seluas 101,723 Ha terdiri dari :
ü     Pekarangan/bangunan : 63,490 Ha
ü     Tegalan : 35,000 Ha
ü     Lain-lain (sungai,jalan,makam,dll) : 3,233 Ha
Terkait dengan administrasi pemerintahan, wilayah Desa Jatilor terbagi ke dalam wilayah Dusun, RW dan RT. Adapun jumlah Dusun, RW dan RT sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.1 berikut ini :

No
Wilayah Dusun
Jumlah RT
Jumlah RW

1
Kodokan
7
2

2
Papahan
11
3

3
Ngablak
10
4

4
Pandes
7
2

5
Kalongan Kulon
9
3

6
Kalongan Wetan
7
2

7
Perum GPI
7
2


Jumlah
57
18

Tabel 2.1

B. Latar Belakang
Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari). Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan dan kader kesehatan mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih sering menimbulkan KLB yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian.
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dalam masyarakat Indonesia. Pada tahun 2003, diare akibat kontaminasi bakteri merenggut sekitar 100.000 nyawa dan menjadi salah satu alasan utama perawatan inap di rumah sakit Indonesia. Di Indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh program, diperoleh angka kesakitan Diare untuk tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk, angka ini meningkat bila dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 1996 sebesar 280 per 1.000 penduduk. Sedangkan berdasarkan laporan kabupaten/ kota pada tahun 2008 diperoleh angka kesakitan diare sebesar 27,97 per 1000 penduduk. Sedangkan angka kesakitan diare pada tahun 2009 sebesar 27,25%. Jauh menurun jika dibandingkan 12 tahun sebelumnya.
Proporsi kematian akibat diare di Indonesia adalah sekitar 3,5%. Ini membuat diare menduduki peringkat ke 13 dalam penyebab kematian semua umur. Tetapi untuk bayi berumur antara 29 hari hingga 11 bulan, diare merupakan penyebab kematian pertama dengan persentase sebesar 31,4%. Sedangkan untuk balita berumur 1-4 tahun, 25% meninggal akibat diare yang berujung kepada dehidrasi. Berdasarkan hasil observasi di desa Papahan Kec. Karanganyar penyakit yang sedang mewabah di desa tersebut adalah diare, yang menurut penulis salah satu factor penyebabnya dikarenakan sanitasi yang buruk dikarenakan alasan tersebut, mendorong penulis untuk melakukan study observasi di desa Papahan Kec. Karanganyar.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. TEORI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Definisi ilmu kesehatan masyarakat (bahasa Inggris: public health) menurut profesor Winslow dari Universitas Yale (Leavel and Clark, 1958) dari adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya.
Ikatan Dokter Amerika, AMA, (1948) mendefinisikan Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat.
Ruang Lingkup Kesehatan Masyarakat
1.      Epidemiologi
2.      Kesehatan Lingkungan
3.      Pendidikan Kesehatan dan Perilaku
4.      Administrasi Kesehatan Masyarakat
5.      Gizi Masyarakat
6.      Kesehatan dan Keselamatan Kerja
7.      Kesehatan Reproduksi masyarakat

8.      Sistem Informasi Kesehatan
9.      surveilans penyakit menular dan tidak menular
Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha Pengorganisasi-an masyarakat “ untuk :
1)      Perbaikan sanitasi lingkungan 
2)      Pemberantasan penyakit-penyakit menular 
3)      Pendidikan untuk kebersihan perorangan.
4)      Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan  pengobatan.
Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya. (Notoatmodjo, 2003)
Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif , ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

  1. PENYAKIT YANG DI TEMUKAN DI DESA PAPAHAN
1)      Definisi Diare
Diare adalah Buang Air Besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200ml/24jam. Definisi lain memakai criteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali/hari. Buang air besar encer tersebut dapat disertai lender dan darah.
Menurut WHO (1990) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih darui tiga kali sehari. Diare akut adalah diare yang yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam atau hari.
2)      Etiologi diare
2.1. infeksi bakteri
Beberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan menyebabkan diare seperti campylobacter, salmonella shigella dan Escherichia coli.
            2.2. Infeksi Virus
Virus yang menyebabkan diare yaitu rota virus, Norwalk, cytomegalovirus, virus herpes simplex dan virus hepatitis.
            2.3. Intoleransi Makanan
Factor makanan misalnya makanan basi, beracun,atau alergi terhadap makanan.penularan melalui kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung,seperti:
·         makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi,baik yang sudah dicemari oleh serangga atau terkontaminasi oleh tangan yang kotor.
·         Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar.
·         Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar.
2.4. Parasit
Masuk dalam tubuh melalui makanan minuman yang kotor dan menetap dalam system pencernaan seperti giardia lamblia, entamoeba histolytica dan cryptosporidium.
2.5. Reaksi Obat
Seperti antibiotic, obat-obatan, tekanan darah dan antasida mengandung magnesium.
            2.6. Penyakit Inflamasi
Penyakit inflamasi usus atau penyakit abdominalis gangguan fungsi usus seperti sindroma iritasi usus  dimana usus tidak dapat bekerja secara normal.
3)      Patofisiologi Diare
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:`
3.1. Gangguan Osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

3.2. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinnding usus akan terjadi peningkatan sekresi   air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus

3.3. Gangguan Motalitas Usus
hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurang nya kesempatan usus untuk menyerap makanan \,sehingga timbul diare,sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare. 
4)      Faktor Terjadinya Diare
Setelah melakukan observasi di desa Papahan Kec. Karanganyar adapun factor-faktor yang mempengaruhi penyakit diare antara lain:
a.       kebiasaan prilaku
b.      sanitasi lingkungan
c.       status social ekonomi
d.      status gizi
5)      Penularan
·         Kontak langsung dengan penderita
·         Makanan yang tercemar
·         Air minum yang tercemar
6)      Pencegahan Diare
·         Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting :1)sebelum makan, 2)setelah buang air besar, 3)sebelum memegang makanan, 4)setelah menceboki anak dan 5)sebelum menyiapkan makanan.
·         Meminum air minum sehat,atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi.
·         Pengolahan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas dan lain-lain)
·         Membuang air besar dan air kecil pada tempat nya, sebaik nya menggunakan jamban dengan tangki septic.
·         Bayi yang minum susu botol lebih mudah diserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya, tetaplah anak disusui walaupun anak menderita diare.
·         Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang.
·         Imunisasi campak.
  1. PENYEBAB MASALAH
Epidemiologi sebagai suatu ilmu berkembang dari waktu kewaktu. Perkembangan itu dilatar belakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
a.    Tantangan zaman dimana terjadi perubahan masalah dan perubahan pola penyakit. Sewaktu jaman John Snow epidemiologi mengarahkan dirinya untuk masalah infeksi dan wabah. Dewasa ini telah terjadi perubahan pola penyakit kearah penyakit tidak menular. Dan epidemiologi tidak hanya diperhadapkan dengan masalah penyakit semata, tetapi juga hal-hal lain baik yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan penyakit/kesehatan, serta masalah non kesehatan.
b.    Perkembangan ilmu pengetahuan lainnya. Pengetahuan klinik kedokteran berkembang begitu pesat disamping perkembangan ilmu-ilmu lainnya seperti biostatistik, administrasi, dan ilmu perilaku (behavior science). Perkembangan ilmu ini juga merupakan angin segar untuk perkembangan epidemiologi.
Dengan demikian terjadilah perubahan dan perkembangan pola pikir para ahli kesehatan masyarakat dari masa kemasa. Sesuai dengan kondisi zaman dimana mereka berada.
v  Teory Terjadinya Penyakit
1)      Epidemiologi Triangle
Menurut John Gordon dan La Richt (1950), model ini menggambarkan interaksi tiga komponen penyebab penyakit, yaitu manusia (Host), penyebab (Agent), dan lingkungan (Environment).
                                             
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEii502qEcsCqxUWegRnlcSn7HzlkfMIZ3-UT6ywGid3iWYrkHJhJMdgkSKViFwIQvdIYMI7ucholbgYPIQmUuUaqkV6_a2Meluzw6AV9IzXYzThiX3udeQB8bv70zshXkRtcPe-OxCtUcw/s1600/1.png
Gordon berpendapat bahwa :
a)      Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan manusia (host)
b)      Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan karakteristik agent dan host (baik individu/kelompok)
c)      Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi tersebut akan berhubungan langsung pada keadaan alami dari lingkungan (lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan biologis) 
Untuk memprediksi pola penyakit, model ini menekankan perlunya analisis dan pemahaman masing-masing komponen. Penyakit dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara ketiga komponen tersebut. Model ini lebih di kenal dengan model triangle epidemiologi atau triad epidemologi, dan cocok unutk menerangka penyebab penyakit infeksi. Sebab peran Agent (mikroba) mudah diisolasi dengan jelas dari lingkungannya.
Menurut model ini perubahan salah satu komponen akan mengubah keseimbangan interaksi ketiga komponen yang akhirnya berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit. Hubungan antara ketiga komponen terseut digambarkan seperti tuas pada timbangan. Host dan Agent berada di ujung masing-masing tuas, sedangkan environment sebagai penumpunya.



 Faktor penyebab penyakit ada 3 antara lain:
1.      Agen Penyakit
Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis, namun kadang-kadang untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti pada penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner dan lain-lain.
 Agen penyakit dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu:
v  Agen Biologis
Virus, bakteri, fungi, riketsia, protozoa dan metazoa.
v  Agen Nutrisi
Protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan lainnya.
v  Agen Fisik
Panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan, cahaya dan kebisingan.
v  Agen Kimiawi
Dapat bersifat endogen seperti asidosis, diabetes (hiperglikemia), uremia dan bersifat eksogen seperti zat kimia, alergen, gas, debu dan lainnya.
v  Agen Mekanis
Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan pada tubuh host (pejamu).
2.      Manusia/Pejamu
Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya penyakit dan tergantung pada karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Karakteristik tersebut antara lain:
(a)    Umur
Menyebabkan adanya perbedaan penyakit yang diderita seperti penyakit campak pada anak-anak, penyakit kanker pada usia pertengahan dan penyakit aterosklerosis pada usia lanjut.
(b)   Jenis Kelamin
Frekuensi penyakit pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan pada wanita dan penyakit tertentu seperti penyakit pada kehamilan serta persalinan hanya terjadi pada wanita sebagaimana halnya penyakit hipertrofi prostat hanya dijumpai pada laki-laki.
(c)     Ras
Hubungan antara ras dan penyakit tergantung pada tradisi, adat istiadat dan perkembangan kebudayaan. Terdapat penyakit tertentu yang hanya dijumpai pada ras tertentu seperti fickle cell anemia pada ras Negro.
(d)   Genetik
Ada penyakit tertentu yang diturunkan secara herediter seperti mongolisme, fenilketonuria, buta warna, hemofilia dan lain-lain.
(e)    Pekerjaan
Status pekerjaan mempunyai hubungan erat dengan penyakit akibat pekerjaan seperti keracunan, kecelakaan kerja, silikosis, asbestosis dan lainnya.


(f)    Status Nutrisi
Gizi yang buruk mempermudah sesorang menderita penyakit infeksi seperti TBC dan kelainan gizi seperti obesitas, kolesterol tinggi dan lainnya.
(g)   Status Kekebalan
Reaksi tubuh terhadap penyakit tergantung pada status kekebalan yang dimiliki sebelumnya seperti kekebalan terhadap penyakit virus yang tahan lama dan seumur hidup. contoh : campak
(h)   Adat-Istiadat
Ada beberapa adat-istiadat yang dapat menimbulkan penyakit seperti kebiasaan makan ikan mentah dapat menyebabkan penyakit cacing hati.
(i)     Gaya hidup
Kebiasaan minum alkohol, narkoba dan merokok dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan.
(j)     Psikis
Faktor kejiwaan seperti emosional, stres dapat menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi, ulkus peptikum, depresi, insomnia dan lainnya.
3.      Lingkungan
Lingkungan hidup manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu lingkungan hidup internal berupa keadaan yang dinamis dan seimbang yang disebut hemostasis, dan lingkungan hidup eksternal di luar tubuh manusia.
Lingkungan hidup eksternal ini terdiri dan tiga komponen yaitu:
1.      Lingkungan Fisik
Bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara, tanah, cuaca, makanan, rumah, panas, sinar, radiasi dan lain-lain. Lingkungan fisik ini berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang waktu dan masa, serta memegang peran penting dalam proses terjadinya penyakit pada masyarakat, seperti kekurangan persediaan air bersih terutama pada musim kemarau dapat menimbulkan penyakit diare.
2.      Lingkungan biologis
Bersifat biotik atau benda hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, virus, bakteri, jamur, parasit, serangga dan lain-lain yang dapat berfungsi sebagai agen penyakit, reservoar infeksi, vektor penyakit atau pejamu (host) intermediate. Hubungan manusia dengan lingkungan biologisnya bersifat dinamis dan bila terjadi ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan lingkungan biologis maka manusia akan menjadi sakit.
3.      Lingkungan sosial
Berupa kultur, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, agama, sikap, standar dan gaya hidup, pekerjaan, kehidupan kemasyarakatan, organisasi sosial dan politik. Manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial melalui berbagai media seperti radio, TV, pers, seni, literatur, cerita, lagu dan sebagainya. Bila manusia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial, maka akan terjadi konflik kejiwaan dan menimbulkan gejala psikosomatik seperti stres, insomnia, depresi dan lainnya.

2)      The Web Of Causation (Jaring-Jaring Sebab Akibat)
Teori jaring-jaring sebab akibat ini ditemukan oleh Mac Mohan dan Pugh (1970). Teori ini sering disebut juga sebagai konsep multi factorial. Dimana teori ini menekankan bahwa suatu penyakit terjadi dari hasil interaksi berbagai faktor. Misalnya faktor interaksi lingkungan yang berupa faktor biologis, kimiawi dan sosial memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit.
Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan. Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat. Dengan demikian maka timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong mata rantai pada berbagai titik. Model ini cocok untuk mencari penyakit yang disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup individu. (azwar, 1998)
Contoh: Jaringan sebab akibat yang mendasari penyakit jantung koroner (PJK) dimana banyak faktor yang merupakan menghambat atau meningkatkan perkembangan penyakit.
Beberapa dari faktor ini instrinsik pada pejamu dan tetap (umpama LDL genotip), yang lain seperti komponen makanan, perokok, inaktifasi fisik, gaya hidup dapat dimanipulasi.
Kerangka konseptual

                                                https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5oQr5qETvS_9CVBneCpMxiVO5F8W4huRHtiXkK8C3qV3c2p6MYtl7uFiGDZ66VOviLvoQTSQgqGPpS7zXRHT2cmA9KEP_R35Irly8pmb1DTMzsHFvcoCkgj87fYa06VE6GmNubWTmwws/s1600/6.png

3)      Teori Roda (The Well Of Causation)
Seperti halnya dengan model jaring-jaring sebab akibat, model roda memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit dengan tidak begitu menekankan pentingnya agen. Disini dipentingkan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan bergantung pada penyakit yang bersangkutan. (Notoatmodjo, 2003)
Sebagai contoh peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang lainnya pada stress mental, peranan lingkungan fisik lebih besar dari lainnya pada sunburn, peranan lingkungan biologis lebih besar dari lainnya pada penyakit yang penularannya melalui vektor (vektor borne disease) dan peranan inti genetik lebih besar dari lainnya pada penyakit keturunan. (Notoatmodjo, 2003)
Dengan model-model tersebut diatas hendaknya ditunjukkan bahwa pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme terjadinya penyakit tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha pemberantasan yang efektif. (Notoatmodjo, 2003)
Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi ekologis maka seringkali kita dapat mengubah penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab penyakit. (Notoatmodjo, 2003)
Model ini menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungannya sebagai roda. Roda tersebut terdiri atas manusia dengan substansi genetik pada bagian intinya, dan komponen lingkungan biologi, social, fisik mengelilingi penjamu. Ukuran komponen roda bersifat relative, tergantung problem spesifik penyakit yang bersangkutan. Contoh pada penyakit herediter tentunya proporsi inti genetik relative besar, sedang pada penyakit campak status imunitas penjamu dan lingkungan biologik lebih penting daripada faktor genetik.
Peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang lainnya dalam hal strees mental, sebaliknya pada penyakit malaria peran lingkungan biologis lebih besar.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTzaqe1KOOapxA7Y4J2_dJ4jal6pJkWRLq3ivp12fwW2ItPhf2BSRWzIsKYl0y5qY_faVgFSgS7yOEuspxPDIp56YJXzJcYtlOlXW4uSytMjlRT9V8e0vJAU9_GcRQTk7gLKyYd_D3PMA/s1600/7.png


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Observasi
Menurut hasil observasi penulis terhadap masyarakat desa Papahan Karanganyar factor yang mempengaruhi penyakit diare antara lain kebiasaan prilaku , sanitasi lingkungan, status social ekonomi dan status gizi.
Dari hasil observasi diperoleh hubungan antara factor kebiasaan prilaku, sanitasi lingkungan, status social ekonomi, dan status gizi terhadap penyakit diare pada masyarakat desa Papahan Karanganyar.
3.1 Hubungan antara factor kebiasaan prilaku dengan penyakit diare
Dari hasil observasi pada masyarakat desa Papahan Karanganyar dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara factor kebiasaan prilaku dengan penyakit diare.
Hal ini dapat kita lihat dari sebagian besar masyarakat desa Papahan Karanganyar, Kebiasaan prilaku yang tidak baik dipengaruhi oleh pengetahuan mereka yang masih kurang tentang kesehatan,seperti contoh lain nya mencuci tangan dalam lima waktu penting yaitu 1)sebelum makan, 2)setelah BAB, 3)sebelum memegang bayi, 4)setelah menceboki anak, 5)sebelum menyiapkan makanan.
3.2 Hubungan antara faktor sanitasi linkungan dengan penyakit diare
Dari hasil observasi pada masyarakat desa Papahan Karanganyar dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara sanitasi lingkungan dengan penyakit diare.
Di daerah yang kumuh yang padat penduduk, sanitasi yang jelek penyakit mudah menular,di desa Papahan ini masih banyak sampah-sampah yang terletak dibelakang rumah.
3.3 Hubungan antara factor status social ekonomi dengan penyakit     diare.
Dari hasil observasi pada masyarakat desa Papahan Karanganyar dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara status social ekonomi dengan penyakit diare.
Status social ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini nampak dari ketidakmampuan ekonomi sebagian keluarga masyarakat desa Papahan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga khusus nya pada anak balita sehingga mereka cenderung memiliki status gizi kurang bahkan status gizi buruk yang memudahkan balita terkena diare.
3.4 Hubungan Antara Factor Status Gizi Dengan Penyakit Diare
Dari hasil observasi pada masyarakat desa Papahan Karanganyar dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara status gizi dengan penyakit diare.
Status gizi mempengaruhi sekali pada penyakit diare, di desa Papahan ini banyak anak yang kurang gizi, karena pemberian makanan yang kurang episode diare akut lebih berat, barakhir lebih lama dan lebih sering. Kemungkinan terjadi nya diare persisten juga lebih sering dan disentry lebih berat, resiko meninggal akibat diare persisten / disentry sangat meningkat bila anak sudah kurang gizi.


B. Pembahasan
Untuk menyelesaikan masalah kesehatan di desa Papahan Karanganyar penulis menggunaka teori segitiga epidimiologi.
Menurut John Gordon dan La Richt (1950), model ini menggambarkan interaksi tiga komponen penyebab penyakit, yaitu manusia (Host), penyebab (Agent), dan lingkungan (Environment).
                                             
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEii502qEcsCqxUWegRnlcSn7HzlkfMIZ3-UT6ywGid3iWYrkHJhJMdgkSKViFwIQvdIYMI7ucholbgYPIQmUuUaqkV6_a2Meluzw6AV9IzXYzThiX3udeQB8bv70zshXkRtcPe-OxCtUcw/s1600/1.png 
1.      Agen Penyakit
Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis, namun kadang-kadang untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti pada penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner dan lain-lain. Agen penyakit di desa Papahan Karanganyar antara lain :
v  Agen Biologis
Virus, bakteri, fungi, riketsia, protozoa dan metazoa.
v  Agen Nutrisi
Protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan lainnya.
v  Agen Fisik
Panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan, cahaya dan kebisingan.

v  Agen Kimiawi
Endogen seperti asidosis, diabetes (hiperglikemia), uremia dan bersifat eksogen seperti zat kimia, alergen, gas, debu dan lainnya.
v  Agen Mekanis
Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan pada tubuh host (pejamu).
2.      Manusia/Pejamu
Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya penyakit dan tergantung pada karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing individu. Karakteristik tersebut antara lain: Umur, jenis kelamin, ras, genetic, pekerjaan, status gizi, status kekebalan, adat istiadat, gaya hidup, psikis. Adapun faktor penyebab masalah kesehatan yakni diare yang sedang mewabah di desa Papahan Karanganyar dikarenakan :
¨      Gaya Hidup
Kebiasaan prilaku yang tidak baik dipengaruhi oleh pengetahuan mereka yang masih kurang tentang kesehatan,seperti contoh lain nya mencuci tangan dalam lima waktu penting yaitu
Ø  sebelum makan,
Ø  setelah BAB,
Ø  sebelum memegang bayi,
Ø  setelah menceboki anak,
Ø  sebelum menyiapkan makanan.




¨      Pekerjaan
Mayoritas penduduk desa Paspahan bekerja sebagai pegawai pabrik, kemungkinan besar kurang memperhatikan masalah kebersihan tangan sebelum makan di jam istirahat sehingga menyebabkan kuman-kuman yang masih bermukim di tangan, akhirnya dapat menimbulkan penyakit diare.
3.      Lingkungan
Lingkungan dengan sanitasi yang buruk akan beresiko tinggi penyebab terjadinya masalah kesehatan masyarakat yang salah satunya diare. Berdasarkan pengamatan penulis, di daerah yang kumuh yang padat penduduk, sanitasi yang jelek penyakit mudah menular, di desa Papahan ini masih banyak sampah-sampah yang berserakan di belakang rumah. Semakin banyaknya penduduk maka akan semakin banyak sampah yang dihasilkan, sehingga semakin tidak terkontrol pengolahan sampah di desa tersebut.









BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
  1. Menurut data Badan kesehatan Dunia (WHO) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari dan diare adalah penyebab nomor satu kematian diseluruh dunia.sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak )memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena diare.
  2. Menurut observasi yang telah di lakukan penyakit yang sedang mewabah di desa Papahan Karanganyar adalah diare
  3. Hasil observasi pada masyarakat di desa Papahan Karanganyar menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kebiasaan prilaku, sanitasi lingkungan, status social ekonomi, status gizi dengan penyakit diare.
B. Saran
  1. Untuk menanggulangi penyakit diare terhadap masyarakat desa Papahan dan seluruh masyarakat desa di wilayah Karanganyar kepada kepala desa diharapkan dapat membina dan mempererat kerja sama dengan dinas kesehatan setempat dan masyarakat desa Papahan khususnya serta seluruh masyarakat di wilayah Karanganyar.
  2. Diharapkan kepada seluruh masyarakat desa Papahan agar lebih memperhatikan kesehatannya serta didukung oleh pelayanan dan penyuluhan kesehatan oleh tenaga kesehatan di Karanganyar sehingga mampu merubah kebiasaan prilaku yang tidak baik, dan lebih memperhatikan sanitasi lingkungan mereka.
  3. Biasakanlah  untuk selalu hidup sehat agar kita tidak terkena  diare.
  4. Tingkatkan kesehatan baik individu maupun lingkungan, agar tidak terserang penyakit.
  5. Cucilah tangan sebelum dan sesudah makan.
DAFTAR PUSTAKA
Widjaja. 2007. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.















LAMPIRAN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar