Kamis, 03 Desember 2015

muhasabah diri

Kasih sayang Allah itu unlimted. .percayakan? Allah selalu memberi apa-apa yang kita butuhkan, apa yang kita inginkan, termasu kapa-apa yang belum kita inginkan. Pernah nggak menghitung jumlah nikmat Allah itu berapa? Jika kita akan menghitung semua nikmat Allah itu tentu mustahil. Banyaknya seluruh partikel di udara ini tak sebanding dngn jumlah nikmat-Nya, kalkulator secanggih apapun tak akan pernah mampumenghitung semua nikma-tNya.. Dari kita bangun tidur, sampai kita bangun tidur lagi, jejak-jejak kenikmatan masih selalu mengiringi kehidupan kita Jadi, sudahkah kita bersyukur hari ini? Tapi bagaimana kita mampu mensyukuri kehidupan jika kita masih suka mendongak ke atas dan hoby ngebanding-bandingin kehidupan orang lain dengan kehidupan sendiri? Lihat temen smartphonenya bagus envy, liat temen punya ini itu, envy dikit dikit envy. Yap begitulah..kita terlalu sibuk menghitung-hitung apa yang belum kita miliki. Padahal cara instan bahagia adalah dengan bersyukur. Lantas sudahkah kita bijak dalam mengelola nikmat2 Allah? nikmat berupa waktu, fasilitas hidup, oksigen, dan berbagai nikamat kasatmata maupun tak kasatmata lainnya.. tanpa sadar terkadang kita masih sering meremehkan nikmat-nikmat Nya. Contoh sederhananyaaa.. kita sering memanfaatkan waktu luang yang sebnernya bisa kita manfaatkan untuk merajutamal kebaikan, malah hanya kita gunakan untuk sekedar berselancar di dunia maya. Numpang ngeksis di fesbuk, stalking twitter yang isinya gk berbobot, Hanya akan menghambat prokdutifitas gays. Sebagai manusia cerdas seharusnya kita ingin terlihat awesome di mata Allah bukan awesome di depan mnusia/public. upload foto-foto kece biar nambah fans, masang dpunyu biar d bilang cantik, bikin kicauan kerend twiit biar followersnya banyak. Tapi kalo ini yang kita inginkan sih its oke, lantas untuk apa? Dunia nggak perlu tahu bahwa kamu cantik, kamu ganteng, kamu unyu #duaaar ketika ponsel berdering krena ada bbm masuk, notification fesbuk, atau pun sms dari sang gebetan saja, spontanitas membuat kita cepet-cepet untuk meraih ponsel. Tapi kenapa ketika mendengar panggilan Allah kita pura-pura tuli dan sengaja mengabaikannya? Kita terlalu asik mengurusi ponsel yang posesif, hingga menomorduakan prioritas. Allah mengajarkan kita untuk berdoa, berharap hanya kepada-Nya,, bukan berkeluh kesah di pm, curhat di twitter, apalagi menulis harapan di dinding fesbuk demi meraihi pkcumlaud saja kita berani berkomitmen untuk study hard tiap hari, ngerjain tugas sebelum deadline, ataupun memburu perhatian dosen biar memperoleh nilaiA.. kenapa hal serupa tidak kita terapkan dalam mencari ridho-Nya? Bersungguh-sungguh bersaing dalam beramal? Kita tahu nih hidup tak sesederhana melunaskan mimpi-mimpi duniawi saja, terlalu dangkal jika tujuan kita hanyalah meraih kesuksesan duniawi.. sebab dunia ini hanyalah perjalan singkat menuju alam akhirat yang kekal... jadi libatkanlah Allah dalam setiap urusankita, jangan jantung kita yang berdetak berlalu tanpa makna. Jadikan Malaikat sebelah kanan kita sibuk mencatat amal kebaikan kita, agar kelak,, kita brekam perjalanan hidup kita di berikan dengan tangan kanan, bukan dengan tangan kiri terlebih dari belakang. selagi nafas masih berhembus, sirkulasi darah masih mengalir selama itu pula kita masih mempunyai kesempatan untuk merevisi hidup

by : DM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar